Dataran Tinggi Dieng

 

Dataran Tinggi Dieng terletak di Kabupaten Banjarnegara dan Wonosobo Jawa Tengah. Nama Dieng (Diyeng) diperkirkan berasal dari kata “Dihyang” yang berarti tempat Hyang (Dewa). Panorama yang indah dapat dijumpai di lokasi ini, terutama di telaga vulkanik yaitu Telaga Warna, Telaga Pengilon, Telaga Siterus dan Telaga Balekambang.

Di Dataran Tinggi Dieng dapat dijumpai perkomplekan candi yang banyak jumlahnya. Penamaan candi diambil dari nama wayang yang bersumber dari cerita Baratayuda seperti Candi Puntadewa, Candi Bima, Candi Arjuna, Candi Gatutkaca dan sebagainya.
Latak bangunan terpencar di beberapa tempat, sebagian ada yang mengelompok dan sebagian lain berdiri sendiri. Kelompok candi yang mengelompok yaitu komplek Percandian Arjuna yang berderet dari utara ke selatan, mulai dari Candi Arjuna, Candi Srikandi, Candi Puntadewa dan Candi Sembadra. Di depan Candi Arjuna terdapat Candi Semar.

Bangunan candi yang berdiri sendiri misalnya Candi Bima, Candi Gatutkaca, Candi Dwarawatik, Candi Parikesit, Candi Sentyaki, Candi Ontorejo, Candi Samba, Candi Nangkula, Candi Sadewa, Candi Gareng, Candi Petruk dan Candi Bagong.

Bangunan candi di Dataran Tinggi Dieng dikelompokkan dalam kelompok Jawa Tengah Utara termasuk di dalamnya Candi Gedong Songo dan Muncul (Ngempon) yang memiliki ciri berukuran kecil dan diduga berumur lebih tua dibandingkan kelompok Jawa Tengah Selatan seperti Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, Candi Sewu, Candi Prambanan, Candi Sukuh, Candi Ceto, Candi Merak, Candi Plaosan dan Candi Sambisari.

Di antara keseluruhan candi di Komplek Percandian Dieng tersebut, terdapat tiga candi yang kini keadaannya masih relatif utuh yaitu Candi Bima, Candi Arjuna dan Candi Gatutkaca.

Candi Bima
Candi yang berukuran 4,93 x 4,34 m dianggap memiliki ciri arsitektur yang berbeda dengan candi lainnya di Indonesia. Candi Bima memiliki bentuk atap yang merupakan perpaduan gaya arsitektur India Utara dan India Selatan. Gaya India Utara tampak pada atap yang berbentuk menara yang meninggi (Sikhara). Sedangkan gaya India Selatan tampak pada bentuk atapnya yang bertingkat dan batur bangunan yang terdiri atas pelipit-pelipit mendatar. Sekain itu adanya menara-menara sudut dan relung-relung bentuk tapal kuda dengan hiasan kudu. Hiasan kudu pada Candi Bdima ini berwujud manusia setengah badan yang melongok keluar dari bilik jendela.

Candi Arjuna
Candi Arjuna berukuran 6 x 6 m dan menghadap ke arah barat. Termasuk dalam kelompok candi Arjuna yaitu Candi Srikandi dan Candi Puntadewa. Keunikan banunan kelompok Arjuna terletak pada bagian tubuh candi yang berbentuk Keben. Pada pintu masuk dan relung-relungnya dihiasi kala makara. Atap candi berbentuk seperti ada pembagian horisontal yang terdiri atas bentuk piramida-piramida jenjang dengan triap sidutnya terdapat menara-menara kecil. Menara kecil tersebut yang memiliki kemiripan dengan gaya arsitektur India Selatan. Ditemukannya prasasti berangka tahun 731 Caka (809 M) di dekat Candi Arjuna dapat menjadi petunjuk pembangunan candi sekitar awal abad IX M

Candi Gatutkaca
Bangunan candi berdenah persegi empat dan terdapat tonjolan pada bagian tengah keempat sisinya. Hiasan ornamental terlihat sangat menonjol dan didominasi oleh pelipit-pelipit halus. Arah hadap candi ke barat disertai pintu masuk bertangga dengan pipi tangga bersayap dan berukir gelung. Terdapat hiasan kala tanpa rahang bawah di atas relung. Bagian atap candi berhiaskan antefik (simbar) dan kepala singa pada setiap sudutnya. Terdapat juga menara-menara kecil di bagian atap paling bawah. Bentuk profil menara-menara tersebut hampir sama dengan profil candi. Atap puncak (mahkota) berbentuk silinder.

Sumber: Brosur Kompleks Candi Dieng SPSP Jateng.
Disarikan kembali oleh: Rochtri A. Bawono

Anda Perlu Makan Jamur


Jamur dikenal sebagai makanan kaya nutrisi, yang baik untuk tubuh. Selain lezat, jamur juga memiliki manfaat kesehatan lho. Itulah mengapa banyak orang yang menggunakan jamur sebagai bahan obat. Penasaran? Berikut adalah enam manfaat jamur bagi kesehatan, seperti dilansir Boldsky.

1. Meningkatkan sistem kekebalan tubuh

Jamur mengandung antioksidan yang memberi perlindungan terhadap bahaya radikal bebas. Jamur juga dapat meningkatkan produksi protein antivirus dan memperbaiki sel-sel tubuh.

2. Kanker

Jamur juga baik untuk mencegah risiko kanker prostat dan payudara. Senyawa dalam jamur bisa menekan efek dari elemen yang menyebabkan kanker. Ia juga menghambat pertumbuhan sel-sel kanker dalam tubuh manusia.

3. Bagus untuk jantung

Jamur memiliki banyak nutrisi dan nol kolesterol. Serat dalam jamur juga dapat menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Maka dari itu, jamur baik untuk mencegah serangan jantung.

4. Penderita diabetes

Jamur memberikan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Selain itu, jamur juga kaya akan vitamin, mineral dan serat. Jamur mendorong pembentukan insulin dalam tubuh, sehingga memberikan perlindungan terhadap diabetes.

5. Menurunkan berat badan

Jamur adalah sumber protein yang baik untuk kebutuhan diet harian Anda. Masukkan jamur sebagai menu diet favorit Anda untuk menurunkan lemak ekstra di tubuh.

6. Metabolisme

Jamur kaya akan vitamin B yang dapat membantu sistem metabolisme tubuh. Oleh karena itu, jamur baik dikonsumsi untuk meningkatkan sistem metabolisme tubuh.

Jamur adalah makanan sehat yang baik untuk tubuh, apalagi jika diolah dengan cara yang benar. Asupan makanan sehat dan olahraga teratur adalah cara terbaik untuk hidup lebih sehat.

Sumber : Merdeka.com

Anda Suka Sup Snerek

Kacang snerek pada umumnya dimasak sup.Anda ingin tahu resepnya?ini dia:
Sup Senerek
Resep hasil modifikasi sendiri

Untuk 4 porsi sup kacang merah

Bahan:
- 200 gram kacang merah kering
- 200 gram daging sapi, potong kubus
- 1 batang wortel potong dadu
- 1 batang daun bawang
- 200 gram kembang kol, potong-potong
- 1 liter air

Bumbu, haluskan:
- 1 sendok teh merica butiran
- 1/4 butir pala
- 1/2 sendok makan garam
- 1 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu lainnya:
- 1 batang kayu manis
- 1 sendok teh kaldu bubuk (optional)
- 1 sendok teh gula pasir

Cara membuat:
1 hari sebelumnya….

Rendam kacang merah kering hingga semua bagian terendam dengan baik, biarkan semalam hingga kacang mengembang dan empuk.

Panaskan 1 1/2 liter air di panci hingga mendidih, masukkan kacang merah dan rebus hingga kacang empuk. Angkat dan sisihkan, jangan buang air rebusan kacang.

Panaskan minyak di wajan, tumis bumbu halus hingga harum dan kecoklatan, angkat.

Siapkan panci, masukkan air dan daging sapi, rebus hingga daging empuk, masukkan kacang merah, tumisan bumbu, gula pasir, kaldu bubuk dan kayu manis. Tambahkan wortel dan masak hingga wortel setengah matang. Masukkan kembang kol. Masak hingga semua bahan matang. Tambahkan daun bawang, aduk rata, cicipi rasanya dan angkat.

Note: jangan terlalu lama memasak wortel dan kembang kol, agar tidak kehilangan kesegarannya.

Sajikan sup senerek dengan taburan bawang merah goreng di atasnya. Sedap!

Sources:
- Web Media Indonesia, Travelista – Sup Senerek, Santapan Nikmat dari Magelang
- Wikipedia Indonesia – Brenebon

Apa itu Pasak Bumi?


Pasak bumi (nama ilmiah: Eurycoma longifolia) adalah sejenis pohon yang terdapat di hutan Malaysia dan Indonesia. Pasak bumi merupakan sejenis tumbuhan yang dikatakan mempunyai bahan yang membantu mereka yang menghadapi masalah seksual.

Pasak bumi dapat mencapai ketinggian sehingga 10 meter di dalam rimbunan hutan tanah rendah. Biasanya, daunnya rimbun pada ujung batang. Kebanyakan pohon ini tidak bercabang, jika bercabang pun terlalu sedikit yaitu satu atau dua cabang saja. Bunganya tersusun padat pada tangkai yang bercabang, yang keluar dari pangkal daun.

Sebuah riset terbaru yang dilakukan di Institut Pertanian Bogor (IPB) menunjukkan bahwa akar tumbuhan pasak bumi (Eurycoma longifolia) mempunyai khasiat melindungi organ hati dari kerusakan.

Selama ini, masyarakat secara turun-temurun mempercayai pasak bumi sebagai ramuan untuk meningkatkan gairah seksual kaum pria. Selain itu, masyarakat juga memanfaatkan pasak bumi sebagai tonikum bagi ibu-ibu yang baru melahirkan, pengobatan pembengkakan kelenjar, demam, dan juga disentri. Namun kini akar pasak bumi dibuktikan khasiatnya oleh Ruqiah Ganda Putri Panjaitan, mahasiswa S3 Program Studi Biologi Sekolah Pascasarjana IPB dalam risetnya yang berjudul “Pengujian Aktivitas Hepatoprotektor Akar Pasak Bumi

Dalam riset ini, ramuan dari ekstrak akar pasak bumi diuji efektivitasnya terhadap fungsi hati pada binatang tikus. “Hasil penelitian ilmiah menunjukkan pasak bumi berkhasiat dalam disfungsi seks, antimalaria, dan sitotoksik (peracunan sel). Sedangkan penelitian pengaruh pasak bumi melindungi hati dari kerusakan belum banyak dilakukan,” kata Ruqiah. Dalam penelitiannya, Ruqiah menghabiskan 12,5 kilogram akar pasak bumi kering. Akar pasak bumi kering dihaluskan menjadi bubuk dan diekstraksi dengan larutan metanol 50 persen. Kemudian, dipartisi berulang-ulang dengan n-heksan, dipekatkan dengan vacuum rotavapor. Hasil partisi ini masih melalui proses beberapa tahapan lagi, hingga diperoleh ekstrak yang diharapkan.

Ekstrak tumbuhan asli Indonesia ini lalu diujicobakan pada tikus jantan Sprague Dawley umur 2-3 bulan. Sebelumya, semua tikus percobaan diberi karbon tetraklorida dengan dosis 0,1; 1,0 dan 10,0 mililiter per kilogram. Karbon tetraklorida ini bersifat meracuni hati dan mengakibatkan nekrosis (kerusakan sel) tikus. Hewan percobaan dibagi tiga kelompok, tiap kelompok terdiri dari tiga ekor. Kelompok pertama, tikus yang diberi air suling. Kelompok kedua, tikus yang diberi “Silybum marianum”. Kelompok ketiga, tikus yang diberi ekstrak akar pasak bumi. Perlakuan tikus ini berlangsung selama tiga bulan.

Pada pemberian ekstrak akar pasak bumi dosis 500 miligram per kilogram berat badan tidak mengakibatkan perubahan kadar enzim hati, yakni enzim “Aspartate Transaminase”, enzim “Alanin Aminotransferaz”, dan “Alkalenfosfataz”, protein total, bilirubin total, direk dan indurek. Gambaran ini menunjukkan secara keseluruhan sel-sel hati tidak mengalami perubahan. Dosis fraksi metanol air akar pasak bumi kemudian dinaikkan menjadi 1.000 mililiter per kilogram berat badan. Pada dosis ini, ekstrak akar pasak bumi menunjukkan aktivitas hepatoprotektor. Hal ini ditandai kadar enzim Aspartate Transaminase dan Alanin Aminotransferaz masih dalam kisaran normal. Selain itu, gambaran histopatologi (jaringan yang terpapar penyakit)-nya sebanding dengan pemberian silymarin

Sumber : http://www.blessing-house.net/?p=453

Images : bekam-abuazzam.blogspot.com

Daftar vitamin yang berfungsi untuk menjaga stamina & vitalitas Pria

Apakah anda termasuk pasangan yang sulit mendapatkan keturunan? Dan harus menunggu dalam waktu yang lama? jangan khawatir. Selain konsultasi spesialis, berbagai jenis makanan sehat harus dimakan dengan hati-hati. Tidak hanya baik untuk kesuburan tapi juga meningkatkan dorongan seks. Nutrisi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan fisik dan mental. Juga dibutuhkan untuk kesehatan ‘fertilitas’ atau kesuburan. Oleh karena itu, pemilihan makanan yang tepat dapat memberikan nutrisi maksimal bagi alat reproduksi.

Beberapa makanan ini rasanya enak dan mengandung vitamin penting yang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan reproduksi dan libido Anda. Vitamin apa yang harus dikonsumsi?

Vitamin A

Vitamin ini mampu menjaga kesehatan jaringan epitel. Jaringan ini hampir ditemukan di seluruh permukaan tubuh, termasuk luas permukaan vital dan rahim pada wanita.Vitamin A dapat ditemukan di hati, telur, kuning telur, keju, mentega dan wortel.

Vitamin B

Vitamin B, B2 dan asam folat sangat dibutuhkan oleh tubuh. Kekurangan yang terkait dengan infertilisasi. Oleh karena itu, bagi wanita yang ingin hamil dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan ini lebih banyak. Dapat ditemukan dalam selada, daging, ayam, ikan, gandum, kacang, pisang dan sayuran hijau. Mereka adalah sumber vitamin B, B2, B6 dan asam folat.

Vitamin C

Meningkatkan vitamin C dalam tubuh dapat membantu untuk meningkatkan kesuburan, terutama pada pria. Makan makanan yang mengandung vitamin C 500 – 1000 mg / hari dapat memperbaiki kualitas sperma. Vitamin ini juga dapat membantu mencegah terjadinya ‘aglutinasi’ atau kelainan pada sperma. Vitamin C dapat ditemukan pada buah kiwi, blackcurrant, strawberry, jeruk dan merica.

Vitamin E

Vitamin ini diproduksi antioksidan kuat untuk melindungi ovum dari kerusakan. Untuk mendapatkan vitamin E dalam tingkat tinggi dapat ditemukan di minyak biji bunga matahari, kacang, biji, margarin, gandum, alpukat dan beberapa jenis minyak nabati.

Seng

Zinc merupakan salah satu nutrisi penting yang terlibat untuk meningkatkan libido dan produksi sperma. Ini kekurangan gizi beresiko dorongan seks menurun pada wanita dan sperma rendah diproduksi oleh laki-laki. Zinc dapat diperoleh pada jenis kerang terutama tiram, roti gandum, beras merah, sayuran hijau, daging merah dan kalkun.

Selenium

Mineral ini penting untuk melindungi kesehatan sperma dan ovarium. Dapat ditemukan pada daging, beras jeroan, merah, dan oatmeal merupakan sumber yang baik bagi tubuh.

Mangan

metabolisme Estrogen pada wanita tergantung pada nutrisi. Oleh karena itu, kekurangan gizi dapat mengurangi kesuburan pada wanita. Cobalah untuk makan bayam, Chestnut, teh, gandum, sereal gandum, kismis, nanas, kacang, dan kacang polong untuk mendapatkan sumber yang baik mangan.

Asam Lemak Esensial

Nutrisi sangat penting untuk menghasilkan sperma. Asam lemak esensial ditemukan dalam minyak bunga matahari, minyak sayur dan kacang-kacangan.

Phytoestrogen

Kandungan senyawa kimia yang berasal dari tanaman yang baik untuk menjaga hormon estrogen pada wanita dapat ditemukan di kedelai dan produk olahan, seperti minuman susu kedelai dan tahu. Selain itu, senyawa kimia ini juga dapat membantu melindungi terhadap kanker prostat dan kanker lainnya, serta untuk mencegah terjadinya tumor.

Antioksidan

Makan buah-buahan dan sayuram tinggi dalam antioksidan dapat mengurangi risiko kanker serviks. Nutrisi ini juga mampu menetralkan zat berbahaya yang diproduksi oleh tubuh. Dapat ditemukan dalam plum, ginseng, adas, bawang merah, bawang putih, wortel, jahe, artichoke dan terung.

Sumber : http://sidomi.com/1318/vitamin-makanan-vitalitas/

Purwaceng

Multi Khasiat Akar Pasak Bumi

Masalah vitalitas bagi pria sering menjadi penyebab kurang harmonisnya kehidupan rumah tangga. Apalagi bagi pria yang memiliki kesibukan ekstra dalam mengejar prestasi kerja. Tak pelak rumah benar-benar menjadi wadah untuk beristirahat semata. Karena faktor kelelahan setelah bekerja seharian.
Pasak Bumi

Pasak Bumi

Penyakit loyo bagi seorang pria dapat diatasi dengan berbagai obat-obatan. Akan tetapi konsumen sering cemas akan adanya efek samping dari penggunaan obat-batan olahan Kimia Sintetis. Ramuan Tradisional pun menjadi alternatif yang sangat tepat. Dalam hal ini akar pasak bumi-lah empunya.

Pasak Bumi telah terkenal di bumi Kalimantan sejak jaman dahulu sebagai obat kuat bagi kaum adam. Tanaman bernama latin Eurycoma Longifolia ini tumbuh subur di hutan pedalaman Kalimantan. Di negeri jiran (Malaysia) Pasak Bumi dikenal dengan sebutan Tongkat Ali.

Akar pasak bumi oleh Suku Dayak (suku asli kalimantan) juga diyakini memiliki berbagai macam khasiat. Dari dahulu hingga sekarang keyakinan itu tetap terjaga sebagai warisan leluhur.

Hal ini dikuatkan dengan berbagai macam penelitian yang menguak kandungan dalam akar pasak bumi. Kandungan ekstrak ethanolic dalam pasak bumi dapat menambah jumlah hormon testosteron pria. Ethanolic merangsang hormon chorionic gonadotropin (HCG) hingga dapat membantu terbentuknya hormon testosteron.

Akar tanaman pasak bumi juga mengandung brusin dan strichnin yang berkhasiat menambah vitalitas pria karena bersifat afrodisiaka. Yaitu ramuan tradisional yang diklaim bisa merangsang libido.

Berdasarkan penelitian, tumbuhan afrodisiaka mengandung senyawa turunan saponin, alkaloid, tanin, dan senyawa lain yang secara fisiologis dapat melancarkan peredaran darah pada sistem saraf pusat atau sirkulasi darah tepi. Efeknya meningkatkan sirkulasi darah pada alat kelamin pria.

Namun penelitian yang dilakukan baru pada tahap kandungan afrodisiaka. Belum sampai efektivitas afrodisiaka terhadap pengobatan disfungsi ereksi. Tapi afrodisiaka relatif lebih aman dibandingkan obat kimia. Sebab sifatnya memupuk dan menyirami, tidak memaksa seperti obat-obatan kimia.

Khasiat Akar pasak bumi rupanya tidak hanya sebatas itu. Akar pasak bumi juga mampu mengobati penyakit malaria. Sebab dalam akar pasak bumi terkandung senyawa erikomanon yang ampuh mengobati malaria. Sedangkan senyawa kuasinoid pada akar pasak bumi dapat melumpuhkan plasmodium falcifarum. Yaitu bakteri yang hidup dalam tubuh nyamuk Anopeles Betina penyebab penyakit malaria. Patut diketahui, bahwasannya plasmodium yang masuk ke tubuh manusia dapat merusak dan menghancurkan sel-sel darah merah.

Disamping sebagai peningkat vitalitas pria dan antimalaria, pasak bumi ternyata dapat pula mencegah serangan kanker. Senyawa kuasinoid dan alkaloid yang terkandung dalam pasak bumi terbukti menghambat pertumbuhan sel kanker berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Abdul Razak Mohd Ali dari Forest Research Institute of Malaysia. Sebanyak 8 alkaloid ditemukan dalam akar pasak bumi, salah satunya 9-methoxycanthin 6 yang berfungsi sebagai antikanker payudara.

Penelitian yang dilakukan oleh Department pf Pharmacognocy, Tokyo College of Pharmacy & The Faculty of Medicine, Tokyo University, Jepang. Menemuka senyawa antileukimia dari pasak bumi. Selain afrodisiak, antikanker, antimalaria, dan antileukimia, pasak bumi juga bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh bagi para penderita HIV.

Pasak Bumi biasa dikonsumsi secara tradisional, dengan meminum air dari akar Pasak Bumi yang direbus selama lebih kurang sepuluh jam. Kemudian air rebusan didinginkan untuk memperoleh bahan aktif yang dikandungnya dan dikonsumsi secara teratur. Namun menurut beberapa kalangan Pasak Bumi sangat baik bila dikonsumsi dalam bentuk bubuk daripada secara tradisional.

Khasiat yang sangat besar dari pasak bumi tak lantas hanya dikhususkan untuk kalangan pria. Kaum hawa pun sangat dianjurkan mengonsumsi ekstrak akar pasak bumi.. Apalagi wanita yang memiliki kesibukan kerja yang sangat tinggi.

Sumber : http://www.vivaborneo.com/multi-khasiat-akar-pasak-bumi.htm
Images : intisari-online.com

Produk kami

Kripik Jamur

Keripik jamur memiliki rasa khas, yang siap bikin anda ketagihan.Dahulu kala, masyarakat Dataran Tinggi Dieng – Wonosobo, memanfaatkan Jamur sebagai bahan makanan basah. Karena perkembangan dunia kuliner semakin pesat, masyarakat dataran tinggi dieng – Wonosobo lebih berinovatif dengan mengolah jamur menjadi keripik. Yang hingga kini Keripik Jamur lebih digemari dikalangan masyarakat setempat maupun wisatawan.

Tak hanya soal rasa yang mendapat acungan jempol, Keripik Jamur mengandung kadar protein lebih tinggi jika dibandingkan dengan beras dan gandum. Keripik Jamur juga mengandung sembilan jenis Asam amino esensial, yang lebih menarik Jamur dikenal sebagai makanan yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Lezat, Sehat, Halal dan Murah itulah ungkapan yang layak diberikan untuk Keripik Jamur. Jika anda penasaran dengan Keripik Jamur, segera bergegas ke dataran tinggi dieng untuk mendapatkanya.

 

Kacang Dieng

Mungkin bagi yang pertama kali mendengar istilah kacang babi (kacang Dieng) terasa asing ataupun aneh, padahal kacang babi (kacang dieng) sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan binatang babi.

Kacang babi (kacang dieng) berasal dari tumbuh-tumbuhan sejenis kacang-kacangan yang hanya tumbuh dengan baik di dataran tinggi dieng, kacang ini memiliki bentuk yang unik, tidak seperti jenis kacang-kacangan lain. Bentuknya besar dan melebar dengan congor ditengah yang berwarna hitam.

Masyarakat dataran tinggi dieng dan sekitarnya lebih sering menyebut dengan istilah kacang babi, sedangkan dikalangan wisatawan kacang babi lebih dikenal dengan istilah kacang dieng. Makanan ringan asli dieng ini merupakan jenis makanan khas wonosobo. Setiap wisatawan yang membeli kacang babi (kacang dieng) tak lupa dengan kripik jamur.

 

Soal rasa boleh dicoba, karena lidah tak pernah bohong (Ungkapan ini tak hanya berlaku untuk salah satu iklan produk makanan di TV, tapi juga berlaku untuk kacang dieng). kacang babi (kacang dieng) termasuk jenis kuliner / makanan ringan yang terkenal akan kelezatanya, rasanya yang gurih juga mengandung nilai gizi tinggi.

Pantas saja jika Kacang babi (kacang dieng) menjadi primadona dikalangan wisatawan, disamping harganya yang terjangkau kacang babi (Kacang Dieng) cocok untuk oleh-oleh atau sekedar untuk cemilan di perjalanan.

 

Kacang Snerek.

Kacang Snerek merupakan jenis kacang yang biasa diolah sebagai campuran pelengkap masakan sup,seperti sup buntut dan lain sebagainya.Namun

 

Grubi.

Grubi adalah makanan jamilan yang dibuat dari parutan ketela rambat yang dalam pengolahannya dicampur dengan adonan gula jawa,kalau didaerah luar Wonosobo menyebutnya “Kremes”.

 

Sale Pisang.

Pengolahannya cukup sederhana dengan cara buah pisang yang dijemur diterik matahari kemudian dilumuri tepung yang telah dicampur bumbu .

 

Sagon Kelapa.

Merupakan jenis makanan yang dibuat dari parutan kelapa yang di cetak bulat dan pipih kemudian disangan .

Carica.

Minuman buah khas dataran tinggi dieng yang cara penyajiannya jika ditambah es akan jadi lebih nikmat

Candi Kalasan

 

 

 

LETAK DAN PEMUGARAN CANDI
Candi Kalasan terletak dipinggir jalan raya Jogjakarta  Prambanan,  sehingga akan terlihat jelas apabila kita melewatinya.  Candinya sudah sangat rusak, di pugar pada tahun 1927-1929, tetapi karena tidak banyak batu candi yang dapat ditemukan lagi, maka apa yang terlihat sekarang adalah hasil maksimal yang bisa dilakukan oleh para ahli arkeologi (Gambar 1).

 

 

Pada waktu diadakan pembongkaran oleh Dinas Purbakala sebelum Perang Dunia II, ternyata pada bagian dalam kaki candi terdapat dinding yang lebih tua.  Artinya candi Kalasan telah pernah  direnovasi sebelumnya.  Kebiasaan memperbaiki suatu bangunan suci oleh penguasa –penguasa kemudian biasa terjadi.  Misalnya stupa Sanchi di India pun pernah terbukti ada perbaikan, atau usaha memperbesar stupa tersebut .

LATAR BELAKANG KEAGAMAAN
Candi Kalasan merupakan candi yang bersifat agama Buddha Mahayana, dan merupakan candi agama Buddha tertua di Jawa Tengah.  Sebuah prasasti berbahasa Sansekerta yaitu prasasti Kalasan dari tahun 700 Saka/778 Masehi telah ditemukan tidak jauh dari candi tersebut.
Berdasarkan prasasti Kalasan, sebuah bangunan suci untuk Tārā(Tārābhavanam) telah didirikan oleh guru-guru raja Sailendra setelah mendapat ijin dari raja Panangkaran.
Prasasti Kalasan ini sangat penting, tidak saja untuk mengetahui bentuk agama Buddha yang berkembang ketika itu dan kedua untuk menelusuri sejarah raja-raja yang memerintah di wilayah Jawa Tengah pada abad 8-10 Masehi.
Berdasarkan kitab-kitab sumber agama Buddha, setelah Siddharta Gautama wafat, agama Buddha pecah menjadi 2 aliran besar, yaitu:
Yang disebut agama Buddha Hinayana atau Therawada dan agama Buddha Mahayana.
Perbedaan yang signifikan adalah mengenai tujuan akhir hidup para pemeluknya.  Cita-cita tertinggi penganut agama Buddha Hinayana adalah menjadi Arhat bagi setiap orang, yang mempunyai arti melenyapkan avidya (ketidak tahuan), dan melenyapkan segala keinginan duniawi  agar terhindar dari kelahiran kembali dan dapat mencapai Nirwana.
Adapun cita-cita tertinggi penganut agama Buddha Mahayana  bukan menjadi Arhat bagi diri sendiri, melainkan menjadi seorang Bodhisatwa, maksudnya menangguhkan pencapaian Nirvana atau yang lebih dikenal sebagai tingkat Kebuddha-an, untuk menolong manusia lain mencapai tingkat tersebut.
Tekad menolong sesama mahluk itu didasari oleh rasa belas kasihan (karuna).  Untuk menjadi seorang Bodhisatwa tidaklah mudah, ia harus memupuk pengetahuan suci untuk memperoleh kebijaksanaan dengan menempuh 10 tingkatan jalan (mārga) Bodhisatwa yang dikenal dengan nama daśa boddhisattwabhūmi. Setiap  tingkat (bhūmi) Boddhisatwa terkait dengan satu ajaran tentang kesempurnaan (paramitā) yang berjumlah 10 pula.  Oleh karenanya agama Buddha Mahayana juga dikenal sebagai Paramitāyana.

Sunyata dan Skanda
Ajaran lain dalam agama Buddha Mahayana yang perlu penulis kemukakan, adalah ajaran tentang śunyata (kehampaan,ketiadaan) dan skandha yang berjumlah 5.

Ajaran Bhakti
Menurut ajaran Buddha Mahayana, segala sesuatunya adalah hampa, oleh karenanya apa yang diinginkan tidak ada, atau tidak terwujud, tidak perlu diminta dan dicari.  Bukan saja dunia ini yang hampa, bahkan Nirwana dan Dharma juga hampa, dan Kebenaran Tertinggi pun adalah Kehampaan/Ketiadaan (Śunyata)

Ajaran Bhakti
Kemudian agama Buddha Mahayana mendapat berbagai pengaruh, di antaranya adalah ajaran bhakti. Gerakan ini menekankan kasih dan penyerahan diri pada dewa tertentu. Dan pengaruh ini berakibat kepercayaan munculnya para Buddha/Bodhisattwa yang bersifat mitis, yang merupakan pantulan dari para Buddha yang menguasai mata angin.
Munculnya tokoh-tokoh Buddha/Boddhisattwa tersebut dikaitkan dengan ajaran Sakyamuni tentang 5 skandha.  Menurut ajaran tersebut manusia merupakan perpaduan (samghata) dari nāma-rūpa, yaitu rūpa (jasmani), vijñana (kesadaran), vedana (perasaan) samjña (pengamatan) dan samskara (kehendak).
Selanjutnya ke-5 skandha tersebut diidentifikasikan dengan 5 Tathagatha atau Jina dengan mata angin tertentu (Buddha-ksetra) yang dikuasainya,  yaitu Wairocana (zenith), Aksobhya (timur), Ratnasambhawa (selatan), Amittabha (barat ) dan Amoghasiddha (utara).  Masing-masing Tathagatha ini dari daya tafakurnya dan kekuatan pengetahuannya, mengalirkan seorang Bodhisatwa dan seorang Manusia Buddha.

Adi Buddha
Ajaran tentang 3 jenis “tubuh”  yang berbeda-beda tingkatannya ini dikenal sebagai ajaran “Tiga tubuh Buddha” (Trikāya), yaitu Dharmakāya,  Sambhogakāya dan Nirmanakāya.  Dharmakāya yang bersifat Śunyata sering disebut Adi Buddha, atau nama lain sesuai dengan aliran pemujanya.  Kelompok Tathagatha termasuk, Sambhgakāya dan kelompok di bawahnya Nirmanakāya.
Adi Buddha yang disebut Bhattara Buddha dalam naskah Sang Hyang Kamahayanikan (naskah jaman Mpu Sindok) digambarkan memiliki “pasangan” berbentuk wanita, bukan śakti karena dalam agama Buddha tidak mengenal śakti, tetapi perwujudan  Prajña (Kebijaksanaan) yang bersifat pasif,  sedangkan Adi Buddha sendiri perwujudan dari Karuna (Belas Kasihan) bersifat aktif.
Demikian pula masing-masing tokoh dalam Sambhogakāya dan Nirmanakāya,  dipuja dengan masing-masing prajña-nya yang disebut Tārā, dengan pembeda ciri-ciri ikonografi dan warna.

Candi Buddha Tertua
Menarik perhatian adalah bahwa candi tertua di Jawa dibangun untuk Tārā, berarti Tārā dianggap sebagai dewi tertinggi.  Hanya sayangnya arcanya telah hilang sehingga untuk identifikasi Tārā dari Tathagatha yang mana sulit dilaksanakan. Dalam prasasti Kalasan disebut Arya Tārā ,  tokoh yang jarang ditemukan di India, kecuali di Bengal, sedangkan di luar India sangat dikenal, antara lain di Tibet, Nepal dan Cina.  Pemujaan  Tārā pada umumnya, bertujuan untuk minta keselamatan dalam perjalanan di laut, namun sebagai dewi tertinggi pemujaan kepada Arya Tārā mempunyai tujuan yang lebih luas lagi.  Dalam prasasti Kalasan, Arya Tārā dikaitkan dengan ajaran dharma, dan menolong manusia menyeberangi lautan samsara, untuk mencapai pengetahuan yang benar.

LATAR BELAKANG SEJARAH
Prasasti Kalasan sangat penting untuk merekonstruksi sejarah budaya masa Klasik Tua (periode Jawa Tengah).   Disebut dalam prasasti tentang pendirian sebuah bangunan suci (bhavana-) untuk Arya Tārā (Tara-bhavana-), dan sebuah vihara untuk guru-guru raja Sailendra. Seperti telah dikemukakan terdahulu,  Arya Tara, dewi tertinggi dalam agama Buddha diharapkan dapat memberi kemudahan dalam usaha manusia mengarungi “lautan samsara” .  Adapun yang mendirikan adalah guru-guru raja Sailendravamsatilaka (:manikam keluarga Sailendra) setelah mendapat ijin dari Sri Maharaja Panamkarana.
Penyebutan 2 nama tersebut menimbulkan berbagai pendapat tentang berapa wangsa raja yang memerintah di kerajaan Mataram tersebut,  Dua wangsakah (Sailendra dan Sanjaya) atau hanya satu wangsa, karena ada yang berpendapat raja-raja wangsa Sanjaya sejak raja Panangkaran berubah haluan menjadi beragama Buddha ? Berdasarkan bacaan terakhir oleh penulis tentang prasasti Kalasan, dapat dikemukakan, bahwa di Jawa Tengah memang ada 2 dinasti (wangsa) raja.  Pada baris 2 dan baris 5 prasasti Kalasan berbunyi sebagai berikut:
2.    āvar(j)yā mahārājam dyāh pañcapanam panamkaranam
śailendrarājagurubhis tārābhavanam hi kāritam śrimat
(Terjemahan: sebuah bangunan suci (untuk) Tara yang mulia telah di-
suruh buat oleh guru2 raja Sailendra, setelah memperoleh persetuju-
an  Maharaja Dyah Pancapana Panamkarana)

5.     rājye pravarddhamāne rajñah śailendravamśatilakasya
śailendrarājagurubhis  tārābhavanam kŗtam kŗtibhih
(Terjemahan: sebuah bangunan suci (untuk) Tara telah didirikan
oleh guru2  raja Sailendra di kerajaan “manikam raja2 Sailendra” yang
sedang berkembang).

Dari dua bait prasasati Kalasan tersebut, raja Panangkaran bukan raja Sailendra, dan ia bergelar Maharaja, sedangkan raja Sailendra hanya bergelar “raja”.  Melihat bahwa Tārābhavanam didirikan di “kerajaan Sailendra yang sedang tumbuh”, maka ketika itu raja Sailendra masih merupakan raja “kecil” di bawah kekuasaan Panangkaran.  Bahkan ketika akan mendirikan bangunan suci untuk Tārā, raja Sailendra (melalui guru2nya)  minta ijin terlebih dahulu pada maharaja Panangkaran.

DESKRIPSI BANGUNAN  CANDI
Telah dikemukakan terdahulu, candi Kalasan pernah diperbaiki, sisa-sisa candi pertama ditemukan pada tahun 1940 pada waktu diadakan penggalian oleh Dinas Purbakala.  Walaupun hanya sedikit tersisa dari bangunan pertama ini, dapat dikemukakan bahwa candi Kalasan tahap pertama berdenah bujur sangkar dan sederhana.  Kemungkinan candi yang pertama inilah yang disebut dalam prasasti Kalasan, ketika raja Sailendra baru memerintah sebagai bawahan raja Panangkaran.
Candi kedua, yaitu yang nampak sekarang terlihat perkembangannya, karena denah tidak bujur sangkar lagi,  pada tiap sisi diberi penampil sehingga membentuk denah palang atau dahulu lebih sering disebut sebagai “salib Yunani”, atau “denah palang”.
Seperti lazimnya candi-candi dari periode Jawa Tengah )gaya Klasik Tua sekitar abad 8-10) Masehi, secara vertikal candi terdiri atas kaki-tubuh-atap.  Untuk memadatkan tanah tempat candi berdiri, biasanya ada fondasi di dalam tanah atau di dalam tanah dan sekaligus dimunculkan di permukaan tanah seperti halnya candi Kalasan.  Fondasi di permukaan tanah ini di candi Kalasan berukuran tinggi kurang lebih 1 meter, menjadi lapik kaki candinya yang didirikan di atas fondasi tersebut.  Lapik lebih lebar dari kaki candi, sehingga membentuk selasar untuk mengelilingi candi (pradaksina) (Gambar 1).  Lapik ini dihias oleh beberapa pelipit rata yang berukuran besar dan kecil.
Kaki candi berdiri di atas lapik, dengan tangga naik ke ruang candi di sebelah timur, hanya sayangnya tangganya sudah rusak tinggal tumpukan batu saja.  Demilian pula berbagai pelipit yang menghias  dinding kaki candi sudah rusak, tetapi A.J.Bernet Kempers (1959) dapat mencoba merekonstruksi bingkai-bingkai kaki candi, yaitu berbentuk pelipit rata, pelipit padma dan pelipit setengah lingkaran (kumuda).
Tubuh candi masih nampak bentuknya pada sisi selatan dan tenggara (Gambar 2).

 

 

Pintu-pintu penampil dan relung dihias kepala kala tanpa rahang bawah, yang dihubungkan dengan 2 pasang makara.   Tidak banyak hiasan dinding candi, tetapi sangat bagus dan mempunyai nilai seni yang tinggi.  Dahulunya dinding candi diberi lepa, dan mungkin warna-warna tertentu.  Beberapa tahun yang lalu, pengunjung masih bisa menemukan pecahan kecil-kecil lepa dinding candi.  Di samping motif kala-makara, keindahan diperlihatkan pula oleh motif sulur daun atau sulur gelung  (ricalcitran spiral) yang menghias bingkai-bingkai candi.
Pada tubuh candi ini terdapat ruang candi (garbhagrha) yang bisa dimasuki dari pintu timur.  Sebuah lorong (antarala) menghubungkan pintu dengan ruang tengah tersebut.  Di dinding sebelah barat terdapat pentas persajian dengan sisa-sisa singgasana yang kosong, arcanya (Tārā ?) tidak ditemukan lagi.
Atap candi sebenarnya sangat unik, di bagian atas pintu penampil terdapat atap dengan hiasan stupika-stupika.  Di bagian tengah terdapat lapik berbentuk prisma segi-8 dengan kemungkinan puncaknya sebuah dagoba besar.  Dinding-dinding lapik masih terlihat beberapa relief manusia , hanya sayangnya keadaannya sudah sangat rusak.

HALAMAN CANDI
Candi Kalasan  dikelilingi oleh 52 buah stupa kecil-kecil sekarang tinggal fondasi-fondasinya. Ketika di gali untuk diteliti, ternyata isinya peripih termasuk kaca perunggu. Pada candi Hindu, peripih dimasukkan dalam sumuran candi yang ada di bagian bawah arca di ruang tengah.  Pada candi-candi Buddha, peripih dalam sumuran tidak ditemukan.  Pada candi Kalasan rupanya peripih di letakkan di bawah 52 stupa kecil-kecil yang mengelilingi candi induk.
Keistimewaan lain dari candi Kalasan adalah pada ujung jalan setapak menuju candi di sebelah timur, dihias dengan motif  “batu bulan” (moonstone), berbentuk kurawal yang berfungsi semacam pembersih kaki (Jawa:kekesed).  Kebiasaan pemakaian “moonstone” ini banyak ditemukan pada kompleks kuil-kuil India Selatan.

PENUTUP
Seperti telah dikemukakan terdahulu, Candi Kalasan pada umumnya dikaitkan dengan prasasti Kalasan yang menyebut desa Kalasa tempat didirikan Tārābhavanam (bangunan suci untuk Tārā).  Namun dari hasil pembongkaran tahun 1940 terdapat kaki candi yang lebih tua,
Berdasarkan ciri-ciri struktural maupun arsitekturalnya, J.Dumarcay memperkirakan candi Kalasan yang ada sekarang ini dibangun sekitar tahun 850 Masehi, di atas candi yang dibangun tahun 778.

*****
Jakarta, 23 September 2011

JagadKejawen
Prof.DR.HARIANI SANTIKO

Candi Prambanan II

 

 

 

Pada dinding tubuh candi Siwa ini terdapat relief dewa-dewa penjaga 8 mata angin (Astadikpalaka), yang candi-candinya ada di halaman I tersebut terdahulu.

 

 

Perlu dikemukakan disini bahwa candi-candi Hindu pada umumnya mempunyai pendaman berupa peripih yang diletakkan di dalam sumuran yang ada di bawah lapik arca pada bilik utama. Candi Siwa sumurannya sedalam 13 meter. Ketika sumuran candi Siwa digali, sedalam 5,75 meter terdapat peti tempat peripih dari batu berisi manik-manik tercampur arang dan tulang2 binatang yang dipakai upacara yaitu kambing dan ayam, batu2 akik, inskripsi dan sebagainya. Peripih merupakan prana.pratistha, yaitu memberi “kekuatan hidup” pada bangunan candi tersebut, sehingga layak menjadi dewagrha (rumah dewa). Di samping di sumuran ada pula peripih di bagian2 candi lainnya, mungkin seperti halnya di Bali, penanaman peripih diadakan dua kali, yaitu sebelum bangunan didirikan dan sesudah bangunan selesai untuk diresmikan.

Candi-candi di kompleks Prambanan baik yang di halaman I maupun ke II mempunyai struktur yang mirip dengan struktur candi Siwa, namun dalam ukuran kecil, dan hanya memiliki satu bilik saja.
Candi Brahma

 

 

Candi Brahma terletak di sebelah selatan candi Siwa.  Ukuran tidak sebesar candi Siwa, berdenah bujur sangkar 20×20 meter dan tinggi 33 meter. Hanya mempunyai satu ruangan, yaitu ruangan utama (garbhagrha) yang berisi arca dewa Brahma bertangan 4 dan berkepala 4 pula, berdiri di atas lapik yoni .  Pada bagian dinding kaki candi terdapat panil-panil motif Prambanan  indah dan kaya variasi tokoh2 pengapit kalpawrksa. Di bagian luar pagar langkan  terdapat  tokoh2 berjenggot, memakai sirascakra  duduk bersila  dan tangan dalam berbagai sikap. Bagian atas pagar langkan dihias dengan amalaka tinggi, besar2 ukurannya berjumalh 72 buah,  yang menambah keindahan candi. Sementara itu pada bagian dalam pagar langkan terdapat relief lanjutan cerita Ramayana yang terpahat di candi Siwa.  Adapun adegan2nya mulai dari sisi timur secara singkat sebagai berikut:

Relief diawali oleh Rama dan Laksmana dan para dewa, apsari dan penghuni kahyangan lainnya bergembira dengan berhasilnya Rama sampai ke gunung Suwela di Alengka. Demikian pula para kera menikmati keindahan dan buah2an gunung Suwela (1-2).

Rawana berkepala 10 duduk berhadapan dengan seekor kera, yaitu Anggada yang bertindak sebagai utusan Rama, mengingatkan agar Rawana segera mengembalikan Sita.  Di antara Rawana dan Anggada terdapat periuk besar dan terlihat Rawana mengacungkan jempol mempersilahkan  menyantap suguhan (3).  Mulailah peperangan dan banyak bala tentara yang gugur (4-9).

 

 

Juga termasuk Kumbhakarna dan Rawana sendiri  (10-12).

Tidak diceritakan Rama dan Sita bertemu kembali, karena adegan2 selanjutnya menggambarkan bisikan2 sumbang tentang kesucian Sita setelah sekian lama ditawan oleh Rawana (13-16).

Sita terpaksa dibuang ke hutan, dan tinggal di pertapaan pendeta Wiswamitra (17-20).

Di pertapaan Sita melahirkan seorang anak (18), kemudian terdapat adegan orang2 yang berpakaian indah2 dengan muka ceria (19), Sita digambarkan memetik bunga dan buah2an (20).  Namun setelah itu tiba2 tidak hanya satu tetapi dua anak laki2 dalam berbagai adegan, berburu di hutan, menghadap sang rsi, bertempur melawan rasaksa, serta hadir pada suatu pertemuan. Dalam cerita Ramayana di India karangan Valmiki, diceritakan Siwa melahirkan dua putera yang diberi nama Kusa dan Lava. Namun dalam panil 18 terdapat adegan Sita melahirkan hanya terlihat satu bayi, entah mengapa yang satu lagi tidak diperlihatkan. Adegan dua anak laki2 hadir di suatu pertemuan, mungkin menggambarkan  kedua anak itu datang ke istana ayahnya sebagai penyanyi pada suatu pesta besar. Mereka menyanyikan riwayat Rama dan Sita. Adegan yang digambarkan di candi Brahma diakhiri dengan Sita yang ditelan bumi dan Rama sangat menyesal akan tindakannya terhadap Sita, tetapi tidak dapat berbuat apa pun.

 

 

Dinding tubuh candi Brahma, tidak dihias dengan relief Astadikpalaka seperti halnya candi Siwa, tetapi dihias relief manusia berjenggot pula. Dalam setiap relung/panil terdapat tiga tokoh berjenggot, yang ditengah duduk bersila, bertangan dua, dengan berbagai sikap, digambarkan duduk diapit tokoh2 lain. Tokoh2 berjenggot tersebut haruslah seorang tokoh dewa, karena memakai jatamakuta (rambut uang dipilin menjadi mahkota), dan diberi tanda kesucian (prabha) di sekitar kepalanya. Siapakah mereka belum jelas, namun ada yang berpendapat mereka adalah tokoh rsi dalam mitologi Hindu yang berjumlah tujuh (Saptarsi). Mereka  muncul setiap manwantara, yaitu  pembagian dari kalpa atau siklus penciptaan-penghancuran dunia (pralaya). Satu kalpa terdiri dari 14 manwantara. Walaupun jumlahnya selalu tujuh, namun tokoh resinya setiap manwantara berbeda2. Saat sekarang Saptarsi yang muncul  adalah Kasyapa, Atri, Wasistha, Wiswamitra,  Gautama, Jamadagni, dan Bharadwaja.  Para resi mitos ini dianggap sebagai “anak2 dewa Brahma”

Candi Wisnu

Candi Wisnu terletak di sebelah kanan candi Siwa, dan strukturnya sama dengan candi Brahma, hanya saja di dalam ruang utama (garbhagrha)  terdapat arca Wisnu setinggi 2,27 meter, bertangan empat, memegang gadha, segitiga (?), cakra dan sangkha bersayap.  Bagian kaki candi dihias oleh motif Prambanan  berjumah 16 buah, namun di antaranya ada yang tidak memakai singa di relung.

 

 

Bagian luar pagar langkan dihias oleh tokoh yang duduk di atas lapik berhias, dengan tangan dalam berbagai sikap, memakai jatamakuta, masing2 diapit oleh dua wanita. Siapakah tokoh tersebut, mungkin dewa Wisnu yang diapit oleh Sri dan Laksmi. Di bagian dalam pagar langkan terdapat relief cerita, yang diidentifikasi oleh Prof. Dr Poerbotjaroko (1915) sebagai cerita Kresnayana, dan Van Stein Callenfels  mengenal beberapa adegan, di antaranya adegan Kresna ketika masih kecil sangat nakal, dan diikat di sebuah lesung oleh ibu angkatnya. Namun Kresna masih bisa berjalan menyeret lesung batu, sehingga banyak pohon tumbang olehnya. Dengan berjalan mengkanankan candi (mapradaksina), urutan adegan2nya secara singkat sebagai berikut:

Menurut ramalan raja Kamsa akan dibunuh oleh anak2 Dewaki, sehingga Kamsa menyuruh bunuh anak2 Dewaki. Namun ada dua anak yang lolos dari maut, yaitu  Balarama dan Kresna karena ditukar dengan bayi lain (1-4).

Mereka dibesarkan oleh ibu angkat mereka bernama Yasoda  dan hidup di antara para gembala. Karena kenakalannya, Kresna pernah diikat di lesung batu oleh ibu angkatnya, namun Yasoda kesukaran mencari tali pengikat, karena talinya selalu kurang panjang.  Kresna dapat berjalan menyeret lesung, dan ketika melewati pohon2 sehingga pohon2 tersebut tumbang (5). Raksasi bernama Putana mencoba menyusui Kresna dan Balarama dengan air susunya yang beracun. Tetapi oleh Kresna diisap sedemikian kerasnya, sehingga Putana mati (6).

Kresna membela teman2 gembalanya, dengan membunuh rasaksa yang berwujud banteng, seekor ular besar dan seekor keledai (7-9).

Balarama yang bersenjatakan bajak dan Kresna terus berperang melawan rasaksa-rasaksa (10-14).

Adegan-adegan berikutnya sulit dikenali, kecuali satu adegan Kresna pergi ke tempat Kamsa dengan membawa busur yang besar (29).

Candi Wahana dan candi A dan B

Di hadapan ketiga candi tersebut di atas, terdapat tiga candi lebih kecil ukurannya, berderet, dan semula ketiganya disebut sebagai candi Wahana. Candi yang berhadapan dengan candi Siwa memang dapat disebut candi Wahana, karena berisi arca Nandi berukuran panjang tubuh dua meter, yang berbaring di tengah bilik, kemudian 2 arca lainnya Candra dan Surya. Arca Surya naik kereta ditarik oleh 7 ekor kuda, bertangan dua, memegang bunga teratai di depan dada. Arca Candra naik kereta ditarik oleh 10 ekor kuda,  tangan kanan memegang Soma dan tangan kiri memegang pataka (bendera).

Dua candi yang berhadapan dengan candi Wisnu dan candi Brahma tidak bisa disebut candi Wahana (Wahana berarti “kendaraan”), karena baik arca Angsa (wahana dewa Brahma) maupuin arca Garuda (wahana dewa Wisnu) tidak pernah ditemukan di candi2 tersebut. Pada candi yang berhadapan dengan candi Wisnu bahkan ditemukan sebuah arca Siwa dalam ukuran kecil, sedangkan sebuah arca Garuda dari desa Telaga Lor ada yang menempatkan di candi ini.  Oleh karena itu candi yang ada di depan candi Wisnu ini dinamakan candi A (bukan candi Garuda), dan candi yang berhadapan dengan candi Brahma disebut candi B.

Candi Perwara di Halaman II

Pada halaman ke II ini terdapat 224 buah candi perwara yang tersusun dalam empat baris, namun batu2nya telah banyak yang hilang sehingga  banyak candi perwara yang tidak mungkin dipugar lagi. Halaman ke II ini tanahnya miring, sehingga terdapat penjenjangan  keletakan baris2 tersebut.

Penempatan candi induk di tengah2 dan dikelilingi oleh candi Perwara merupakan kebiasaan yang dijumpai pada candi-candi Klasik Tua di Jawa Tengah. Candi Kalasan, candi Lumbung, candi Sewu, candi Plaosan Lor dan sebagainya,  dikelilingi oleh sejumlah candi Perwara. Sistim tata letak percandian semacam ini tidak kita jumpai pada candi-candi Klasik Muda di Jawa Timur. Misalnya pada candi Tegawangi, candi Panataran, candi Perwara  atau candi-candi yang lebih kecil ukurannya di tempatkan di halaman depan, sedangkan candi induknya di halaman  belakang   candi-candi Perwara tersebut.

Terdapat kemungkinan bahwa candi-candi Perwara ini didirikan oleh para pemberi wakaf (anumodha) seperti halnya dengan candi-candi Perwara di candi Plaosan Lor. Namun perbedaannya, candi-candi Perwara di Plaosan Lor mencantumkan nama-nama si pemberi wakaf, sedangkan di candi Prambanan tidak. Misalnya di candi Plaosan Lor menyebut “anumodha rakai pikatan”, “anumodha rakai gurunwangi” dan sebagainya.

Bilamana candi Prambanan didirikan, J.G. de Casparis, seorang ahli Epigrafi Jawa Kuna memperkirakan pada abad IX. Pendapatnya ini berdasarkan sebuah prasasti Siwagrha yang berasal dari tahun 778 Saka atau 856 Masehi. Pada prasasti itu disebut suatu gugusan candi yang ditahbiskan pada waktu pemerintahan Rakai Pikatan, seorang raja dari wangsa Sanjaya.

Candi Prambanan adalah candi Saiwa, hal ini jelas terlihat pada ukuran candi Siwa yang jauh lebih besar dari candi-candi Brahma atau Wisnu, serta berada di pusat kompleks percandian.  Agama Siwa sudah dikenal di Jawa Tengah pada sekitar abad VII Masehi dengan adanya suatu prasasti Sojomerto yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuna, menyebut Dapunta Selendra yang beragama Siwa. Setelah prasasti Sojomerto, ada prasasti yang sangat penting dalam pemberitaan agama Siwa, yaitu prasasti Canggal dari tahun 732 Masehi dan menyebut nama raja Sanjaya, anak Sanna. Prasasti ini berbahasa Sansekerta dan berhuruf Pallawa, yang menyebut pendirian sebuah lingga di bukit Sthirangga, untuk kebahagiaan rakyat (Sanjaya). Kemudian 5 bait  berikutnya berisi puji2an untuk dewa Siwa, Wisnu dan Brahma, namun puji2an untuk Siwa disebut dalam 3 bait, sedangkan Wisnu dan Brahma, masing2 dalam 1 bait.  Siwa dalam prasasti itu disebut bermata tiga, mempunyai 8 tubuh (astatanu) dan dipuja oleh para Yogin. Dengan menyebut 8 tubuh Siwa, berarti Siwa sebagai dewa tertinggi berada dimana2 di seluruh alam semesta, karena 8 tubuh ini adalah matahari, bulan, Yajamana (manusia), 5 mahabhuta yaitu air, api, tanah, udara, angin.

Pada tahun 1991 ketika diadakan pemugaran candi A dan candi B, telah ditemukan peripih di sumuran candi B yang menyebut dewa-dewi dasa lokapala (penjaga 10 mata angin), menyebut ajaran dalam agama Hindu yang penting bagi mereka yang menghendaki moksa, yaitu ajaran “dharma” yang dalam agama Hindu berarti “kewajiban semua mahluk”, “wairajya” adalah latihan untuk melenyapkan ke-aku-an ( ahamkara) dan “jnana” adalah pengetahuan suci untuk melenyapkan kebodohan (awidya), sehingga tercapailah moksa, yaitu bersatunya Atman dan Brahman yang diidentifikasikan dengan Siwa dalam agama Hindu-Siwa. Kemudian inskripsi tersebut menyebut kalimat om pascima gatra ya namah, yang berarti “Hormat kepada (bayangan) tubuh penguasa barat” dan penguasa barat disini adalah Siwa Mahadewa, karena apabila kita melihat susunan dewa-dewa Nawasanga (9 wujud Siwa), Mahadewa adalah penguasa sebelah barat. Sementara itu arca dewa Siwa Mahadewa ada di ruang tersuci (garbhagrha)  candi Siwa.

 

Candi Negara atau Kerajaan Mataram Kuno

Dari data artefaktual maupun prasasti, candi Prambanan adalah candi untuk pemujaan dewa Siwa, namun yang mengherankan adalah mengapa relief cerita bukan cerita tentang Siwa, melainkan tentang dewa Wisnu. Wisnu dalam agama Hindu adalah dewa pelindung manusia, dan di Jawa khususnya Wisnu dipuja oleh para raja dan para pahlawan. Raja memuja Wisnu, karena dewa tersebut telah mengajarkan niti atau sikap raja yang berjumlah 8 dalam Ramayana kepada Bharata, dan di Jawa ajaran tersebut dikenal sebagai astabrata. Oleh karena itu dewa Wisnu selalu menjadi istadewata (dewa pelindung) raja2, walaupun raja tersebut beragama Siwa. Dengan dipahatnya cerita2 tentang Wisnu, serta memperhatikan gugusan candi Prambanan yang sangat besar, penulis berpendapat bahwa candi Prambanan adalah candi negara atau candi kerajaan Mataram Kuna.  Memang pada masa Mataram Kuna ada 2 wangsa raja, yaitu wangsa Sailendra yang beagama Buddha dan wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa. Namun terjadilah pernikahan antara Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan Pramodhawardhani puteri wangsa Sailendra yang beragama Buddha, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa candi negara bersifat agama Siwa.

Perlu penulis kemukakan disini, bahwa beberapa ratus tahun kemudian, yaitu pada masa kerajaan Majapahit, kejadian itu terulang lagi, yaitu candi negara (kerajaan) Majapahit yaitu candi Panataran diberi relief cerita Ramayana dan Kresnayana pada dinding candi induknya.

JagadKejawen,
Prof. DR. Hariani Santiko

Candi Prambanan

 

 

 

Setelah membicarakan candi Borobudur,  kita bicarakan candi Prambanan, karena keduanya adalah candi besar yang istimewa dari kerajaan Mataram Kuna.   Candi Borobudur bersifat agama Buddha dan didirikan oleh raja Sailendra, maka candi Prambanan didirikan oleh seorang raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa  pada tahun 856 Masehi.

 

Candi Prambanan berupa sebuah kompleks bangunan candi terdiri dari tiga halaman dengan candi Siwa sebagai pusatnya, terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, kurang lebih 17 km sebelah timur kota Yogjakarta.

Cerita rakyat tentang Prambanan

Candi Prambanan dikenal pula dengan nama candi Lara Jonggrang atau Roro Jonggrang, terbawa oleh penamaan penduduk setempat untuk arca Durga Mahisasuramardini yang terletak di ruang penampil sebelah utara candi Siwa.

Pemberian nama Lara Jonggrang yang berarti “Gadis yang semampai” ini dikaitkan dengan cerita rakyat tentang asal muasal berdirinya candi Prambanan, yang secara singkat adalah sebagai berikut:

Lara Jonggrang, seorang puteri raja Baka mendapat lamaran dari Bandung Bandawasa, tetapi ia tidak berminat karena pemuda tersebut telah membunuh ayahnya. Karena didesak terus menerus, Lara Jonggrang mencari tipu muslihat. Ia berpura pura menerima lamaran  dengan syarat agar Bandung Bandawasa dapat membuat candi/arca seribu dalam satu malam.  Menjelang tengah malam ternyata candi/arca hampir selesai, telah terselesaikan  sejumlah 999 buah.  Dengan cemas Lara Jonggrang minta kepada penduduk agar menyalakan obor sebanyak mungkin, dan beberapa gadis menumbuk padi, sehingga ayam jantan  mulai berkokok. Dikira sudah fajar, hilanglah kekuatan Bandung Bandawasa sehingga tidak bisa menggenapi 1000 candi/arca.  Namun ketika ia tahu tipu muslihat sang puteri, Bandung sangat  marah dan Lara Jonggrang dikutuk menjadi arca batu untuk menggenapi candi/arca sesuai permintaannya.

 

“Penemuan kembali” Prambanan

 

Candi Prambanan merupakan sebuah kompleks percandian yang dilaporkan pertama kali  oleh CA Lons seorang pegawai VOC Semarang pada tahun 1733 Masehi.

Sejak Stamford Raffles menjadi Gubernur Jendral di Jawa, candi Prambanan mulai diteliti secara sistimatis.

YW Ijzerman tahun 1885 mulai membersihkan reruntuhan candi, dan  selanjutnya ia menulis laporan pekerjaannya dalam bukunya yang berjudul Beschrijving der Oudheden (Uraian tentang Bangunan-Bangunan Purbakala). Diteruskan oleh J.Groneman dan seorang juru foto orang Jawa bernama Kasian Cephas, telah membuat foto-foto  dokumentasi candi Prambanan. Pekerjaan memugar kompleks Prambanan terus dilakukan.

Dimasa Jepang dan Perang Kemerdekaan RI

Ketika masa pendudukan Jepang pegawai-pegawai Belanda ditawan oleh orang Jepang, dan pekerjaan dilanjutkan oleh orang-orang Indonesia yaitu Suhamir yang dibantu oleh Samingun dan Suwarno. Demikian pula ketika terjadi revolusi fisik  tahun 1948 pekerjaan memugar terhenti sama sekali karena pegawai-pegawainya takut untuk masuk bekerja.

Kerusakan  terjadi karena desa Bogem dekat Prambanan menjadi markas tentara kolonial Belanda, dan rakyat menjarah kantor Prambanan yang diperkirakan menyimpan benda-benda dari emas, sehingga banyak arsip yang hilang. Setelah Jogjakarta kembali kepada pemerintah Republik Indonesia tahun 1949,  pekerjaan memugar candi Prambanan menjadi lancar.

Pekerjaan selesai tahun 1952, namun tidak pernah difikirkan memberi penangkal petir untuk bangunan setinggi itu, maka pada tahun itu pula puncak candi Prambanan disambar petir. Perbaikan dilakukan bersama-sama dengan memperbaiki ragam hias pada bingkai-bingkai atap serta gapura-gapura bilik candi, sehingga perbaikan tuntas sudah pada tahun 1953 dan bangunan Siwa Prambanan diresmikan tahun 1954 oleh Presiden Republik Indonesia 1, Presiden Soekarno.

KOMPLEK DAN BANGUNAN-BANGUNAN CANDI

Gugusan candi Prambanan yang berjumlah ratusan itu dikelilingi oleh tiga lapis pagar keliling, masing – masing  berdenah bujur sangkar dengan empat buah pintu gerbang di setiap sisi.

Halaman Pusat

 

Tembok keliling yang paling dalam memagari halaman pusat mempunyai ukuran 110×110 meter.  Dalam halaman pusat atau halaman pertama ini  berdiri delapan buah candi,  yaitu candi Siwa sebagai candi terbesar menghadap ke timur, diapit oleh candi Wisnu di sebelah utara dan candi Brahma di sebelah selatan.

Di depan ketiga candi tersebut ada tiga buah candi yang lebih kecil, dan biasanya disebut candi Wahana, dan dua buah candi berdiri dekat pintu gerbang sebelah utara dan selatan, kedua bangunan ini disebut candi Apit.

Di samping delapan candi besar tersebut , pada halaman pusat ini terdapat delapan candi kecil-kecil ukurannya, dan terletak di delapan penjuru mata angin, tidak jauh dari pagar keliling. Ke-8 candi ini biasanya disebut sebagai candi Kelir, namun dalam karangan ini  disebut candi Mata Angin atau candi Astadikpalaka  yang berarti Penjaga 8 mata angin.

 

Dalam agama Hindu, terdapat kelompok dewa-dewa penjaga arah mata angin, ada yang  empat (Catur Lokapala), ada yang berjumlah delapan (Astadikpalaka), berjumlah sepuluh (Dasa Lokapala). (Pada masa tumbuhnya kebudayaan Hindu-Saiwa periode Jawa Timur (abad X_XVI) terdapat Sembilan bentuk Siwa yang dikenal sebagai Nawasanga).

Candi kecil berjumlah 8 di halaman pusat komplek Prambanan adalah tempat dewa – dewa  Astadikpalaka, karena dalam kitab Vastusastra, dewa-dewa tersebut sangat penting kedudukannya pada setiap upacara keagamaan. Relief dewa-dewa Astadikpalaka ini pun dijumpai pada dinding tubuh candi Siwa.  Halaman pusat ini ternyata  lebih tinggi 4.20 meter dari halaman  ke II, sehingga untuk ke halaman II harus melalui 9 buah anak tangga.

Halaman II

Halaman ke-II berukuran  220×220 meter, dan dari sisa-sisanya diketahui pada halaman II ini dahulunya terdapat 224 buah candi Perwara, semuanya menghadap keluar, maksudnya tidak menghadap ke halaman pusat.  Telah ada beberapa candi Perwara yang bisa dipugar, namun kebanyakan sulit dikembalikan ke bentuk semula, karena batu-batunya telah banyak yang hilang.

Halaman III

Menarik perhatian adalah bentuk halaman III yang tidak simetris dengan halaman I dan ke II, apa sebabnya belum jelas.  Ada kemungkinan halaman ke III sengaja di buat asimetris untuk menampung air sungai Opak dijadikan semacam kolam buatan.  Dalam sebuah bangunan suci, peranan air (tirtha) sangat penting, air tersebut bisa berupa sungai, kolam.   Dalam  prasasti Siwagrha tahun 856 Masehi yang menguraikan tentang kompleks bangunan suci yang didirikan, mungkin kompleks Prambanan. Dalam prasasti tersebut ada kalimat berbunyi …lwah inalihaken… berarti “sungai dipindahkan”.  Apa yang dimaksud aliran sungai Opak dipindahkan agar air sungai bisa ditampung untuk kolam  ?  Halaman III yang letaknya lebih rendah dari halaman II, dahulunya dipakai untuk mendirikan bangunan-bangunan profan tempat penginapan para pendeta dan mungkin pula untuk istirahat para peziarah .  Luas halaman ke III ini adalah 390×390 meter.

Candi Siwa

 

Candi Siwa merupakan candi terbesar dan terindah  di antara seluruh candi-candi dalam kompleks.

Candi berdenah bujur sangkar berukuran 43,46 x 42,60 meter, tinggi 47 meter.

Candi mempunyai tiga bagian, yaitu kaki-tubuh-atap, yang diperkirakan masing-masing bagian tersebut adalah lambang dari  bhurloka (dunia bawah)-bhuwarloka (dunia manusia)-swarloka (dunia atas).  Mempunyai empat buah bilik, yaitu bilik utama atau bilik pusat (garbhagrha) dengan pintu menghadap ke timur,  dan tiga buah bilik penampil pada sisi selatan, barat, utara.

Di ruang pusat (garbhagrha) terdapat arca Siwa Mahadewa berdiri di atas yoni.

Adapun ruang-ruang penampil diisi arca-arca Agastya (sebelah selatan), Ganesa (sebelah barat) dan Durga Mahisasuramardini yang dikenal sebagai Lara Jonggrang di bilik penampil sebelah utara. Masing-masing penampil ini mempunyai tangga untuk masuk ke bilik-bilik tersebut. Atap candi menjulang tinggi, terdiri dari 3 lapis yang dipenuhi dengan hiasan ratna atau amalaka tinggi dan puncak candi pun berbentuk amalaka tinggi.

 

Keistimewaan lain candi Siwa adalah dijumpainya bangunan-bangunan kecil pada sudut setiap pipi tangga dan kaki candi. Pada awalnya tidak diketahui fungsi bangunan kecil-kecil tersebut, namun ketika diadakan pengukuran halaman-halaman kompleks candi, dapat diketahui bahwa salah satu candi kecil itu yaitu yang terletak di selatan tangga sebelah timur, adalah tanda titik silang halaman  I dan II.  Hal ini menarik, karena dalam kitab Vastusastra di India, titik silang seharusnya ada di ruang pusat (garbhagrha) candi.  Namun para seniman Jawa Kuna tidak ingin mengikuti aturan kitab Vastusastra, dan titik silang sengaja di hindarkan dari ruang tersuci tersebut.  Hal semacam ini pun terdapat pada beberapa candi Mataram kuna lainnya, misalnya pada candi Sambisari.

Kalpataru dan relief Prambanan

Selain struktur candi yang megah, candi Siwa memiliki ragam hias dan relief yang sangat menarik. Salah satu ragam hias yang sangat menarik pada dinding bagian luar kaki candi Siwa, maupun kaki candi  lainnya terdapat ragam hias berupa pohon kalpataru (kalpawrksa) yang mengapit relief singa, sebaliknya masing-masing pohon diapit oleh binatang-binatang tertentu.  ragam hias ini dikenal sebagai motif Prambanan.

 

Dari hampir 200 buah motif Prambanan, tidak ada dua motif yang secara detail mempunyai persamaan. Kalpataru adalah “pohon kehidupan” yang tumbuh di sorga dewa Indra. Pohon Kehidupan ini ada lima macam, selain kalpataru ada pohon parijata yang dipakai hiasan candi-candi masa Klasik Muda, terutama candi Kidal dari masa Singasari. Di bagian luar kaki candi Siwa terdapat 64 buah relief motif Prambanan.  Sementara itu, di deretan panil di atas  panil-panil berhiaskan motif Prambanan terdapat 70 buah panil  menggambarkan tiga orang yang sedang menari. Relief ini adalah cuplikan dari kitab Natyasastra yang menggambarkan Siwa dalam tarian Tandawa. Gerakan-gerakan tari Tandawa ini sebenarnya menggambarkan lima tugas (pancakrtya) dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, yaitu “penciptaan, perlindungan, penghancuran, menghilangkan kebodohan, memberi  anugerah.

Selain ragam hias ornamental yang indah,  di bagian dalam pagar langkan  candi Siwa terdapat relief wiracarita Ramayana yang dipahat di 42 panil, mulai dari sisi timur. Cerita dimulai dari Wisnu menitis ke Rama, yang diakhiri oleh cerita Rama dan bala tentara kera membuat jembatan menuju ke Alengka (cerita Wayang Rama Tambak). Oleh karena cerita belum selesai, maka cerita Ramayana di lanjutkan di bagian dalam pagar langkan candi Brahma sebanyak 30 panil.

Berikut ini diuraikan secara garis besar  adegan-adegan cerita Rama yang dapat kita ikuti  kalau kita berjalan menelusuri lorong selasar (pradaksinapatha) dari sisi timur dengan menyebelah-kanankan (mapradaksina) candinya, maksudnya mengikuti arah jarum jam:

Lima dewa menangis di hadapan Wisnu dengan permohonan agar dewa Wisnu turun ke dunia membunuh Rawana. Wisnu duduk di atas ular Ananta dan di sebelahnya duduk Garuda yang mempersembahkan sekuntum bunga teratai setengah mekar (1).

Pendeta Wiswamitra minta pertolongan ayah Rama untuk membasmi para raksasa yang mengganggu pertapaan mereka. Rama dan Laksmana diutus mewakili  raja, berhasil membunuh para raksasa, termasuk rasaksa Taksaka dan Marichi (2-5).

Selanjutnya Rama dan Laksmana meminang Sita, puteri raja Janaka, dan Rama menang dalam swayamwara setelah berhasil membentangkan busur dewa Siwa (6).
Selesai pernikahan, Rama, Sita dan Lakmana pulang ke Ayodhya, di tengah jalan dihadang oleh Rama Parasu. Namun Rama Parasu dikalahkan oleh Rama (7-8).  Raja Dasaratha, ayah Rama, ingin  agar Rama menggantikannya sebagai raja di Ayodhya, menggantikannya. Tetapi keinginan itu ditentang oleh salah satu isteri raja yaitu Kaikeyi.  Akhirnya pengganti raja adalah Bharata, anak Kaikeyi, dan Rama, Sita dan Laksmana diharuskan pergi dari Ayodhya dan tinggal di hutan Dandaka (9-11).

Mereka bertiga berangkat ke hutan Dandaka, karena kesedihannya raja Dasaratha wafat, mayatnya dibakar (12-13).

Bharata pergi menyusul Rama dan minta agar Rama kembali ke Ayodhya untuk menjadi raja, namun permintaan Bharata ditolak.  Ia memberi sepasang terompahnya sebagai wakil, dan sepasang terompah itu diletakkan di atas singgasana. Rama juga mengajarkan delapan (asta) tingkah laku yang baik (brata) yang diharapkan dilakukan oleh seorang raja.  Ajaran niti ini di Jawa dikenal sebagai Astabrata (14).

Rombongan Rama memasuki hutan rimba dan banyak mendapat godaan, di antaranya godaan seekor burung gagak yang mengganggu Sita. Rama marah dan burung gagak dikutuk bulunya menjadi hitam (15-16).
Sarpanaka adik Rawana, datang melamar Rama dan Laksmana, tetapi ditolak. Karena sakit hati ia pergi mengadu ke kakaknya Rawana (17-18).

Rama dan Laksmana mengejar seekor kijang Kencana, yang sebenarnya adalah rasaksa Marica, pembantu Rawana.  Ketika Sita ditinggal sendiri, ia diculik oleh Rawana (19-21).

Sita ditolong oleh burung Jathayu, tetapi burung tersebut dapat dikalahkan oleh Rawana.  Sebelum mati, Jathayu sempat menceritakan perihal Sita kepada Rama (22-23).

Dalam perjalanannya mencari Sita, Rama dan Laksmana telah membebaskan bidadara dan bidadari yang dikutuk menjadi raksasa dan buaya,kemudian Rama bertemu Hanuman (24-26).

Rama menolong Sugriwa dengan membunuh Walin (Subali), kakak Sugriwa, kemudian mengangkat Sugriwa menjadi raja di gua Kiskenda.  Sugriwa berjanji akan membantu Rama memerangi Rawana (27-32).

Mulailah persiapan2 perang, Hanuman diutus ke Alengka menemui Sita (33-34).  Hanuman berhasil ketemu Sita di Alengka yang selalu dijaga/didampingi oleh Trijata, anak Wibhisana. Kemudian Hanuman tertangkap dan dihukum bakar.  Namun Hanuman tidak terbakar, bahkan ia membakar rumah-rumah di Alengka.  Kemudian ia kembali ke tempat Rama untuk melaporkan keadaan (35-39).

Setelah mendapat persetujuan dari dewa laut Waruna, Rama mengerahkan bala tentara monyetnya Sugriwa membuat jembatan di atas laut menuju Alengka , dan bersama-sama dengan bala tentaranya Rama dan Laksmana menuju Alengka (40-42).

Relief Ramayana Prambanan ini telah dibahas oleh W.F.Stutterheim tahun 1925 sebagai disertasinya.  Di samping itu  di tahun 1928 ia mencoba mencari makna simbolis relief naratif Ramayana, dan menurut pendapatnya penyusunan adegan cerita Rama ini sesuai dengan jalannya matahari mengitari bumi setiap hari:

?Di sebelah timur:  turunnya Wisnu ke dunia sampai dengan kembalinya Rama ke Ayodhya   (matahari terbit)

?Di sebelah selatan:  kehidupan perkawinan Rama-Sita  sampai dengan adegan di buang ke hutan (kebahagiaan memuncak)

?Disebelah barat : Sita dilarikan Rawana sampai dengan kemenangan Rama atas Subali (mulai senja,matahari mulai surut)

?Di sisi utara :  permusyawaratan Rama dengan Sugriwa untuk menyerang Alengka dan Hanuman diutus ke Alengka sampai dengan pembuatan jembatan (tambak) dan penyeberangan ke Alengka  (malam –menjelang pagi).

Seperti telah dikemukakan terdahulu, cerita Rama ini dilanjutkan di bagian dalam pagar langkan  candi Brahma  pada 18 panil.  Apa sumber cerita Ramayana ini belum ditemukan. Dari adegan-adegannya, cerita Rama tidak bersumber pada Ramayana karangan Walmiki, maupun kakawin Ramayana.

JagadKejawen,

Prof.DR. Hariani Santiko

 

Candi Borobudur

 

 

LETAK CANDI

Berbagai peninggalan sarana ritual agama Hindu maupun agama Buddha banyak ditemukan di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Sarana ritual tersebut berupa bangunan suci yang disebut candi, berbagai kolam suci yang disebut patirthan dan gua-gua pertapaan. Salah satu peninggalan yang sangat penting tidak saja bagi umat Buddha tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia adalah sebuah bangunan suci yang dikenal sebagai candi Borobudur, yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia (World Heritage) pada tahun 1991.

 

 

Candi ini terletak didesa Bumisegoro, dekat Magelang, disebuah bukit yang ada di antara bukit Dagi dan sebuah bukit kecil lainnya, dan  di sebelah selatan bukit Menoreh. Kira-kira 2 kilometer sebelah timurnya terdapat pertemuan dua buah sungai yaitu sungai Progo dan sungai Elo.

Menarik perhatian adalah bahwa candi Borobudur terletak pada satu garis lurus dengan dua candi Buddha lainnya, yaitu candi Pawon dan candi Mendut. Menurut beberapa pendapat hal ini terkait dengan kepercayaan tertentu dalam agama Buddha. Letak candi di atas sebuah bukit atau tempat yang ditinggikan dan dekat dengan pertemuan dua buah sungai, merupakan pilihan yang tepat sesuai dengan aturan yang disebut dalam kitab  Vastusastra.  Salah satu Vastusastra yang mungkin dikenal oleh para seniman Indonesia adalah Vastusastra versi India Selatan yang disebut Manasara.

Ada temuan-temuan dihalaman candi berupa stupika tanah liat, meterai tanah liat bergambar Tara dan Buddha Tathagatha  yang merupakan sisa-sisa upacara keagamaan. Ditahun 1952 ada penemuan lain berupa  fondasi bangunan, sejumlah paku, besi, pecahan gerabah dan tembikar halus, sebuah genta , dan sebagainya, yang menunjukkan kemungkinan adanya vihara untuk para bhiksu pengelola candi yang terletak diluar halaman candi.

 

PENEMUAN DAN PEMUGARAN CANDI

Candi Borobudur baru ditemukan kembali pada tahun 1814, ketika Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris di Jawa mendapat laporan tentang sebuah candi bernama Borobudur, di desa Bumisegoro dekat Magelang. Kemudian ia menyuruh Cornelius, seorang Insinyur Belanda  untuk meneliti candi tersebut.  Cornelius menyuruh orang menebangi dan membersihkan candi dan sekitarnya dari semak belukar dan pekerjaan selesai dalam waktu dua bulan.  Apa yang dilakukan oleh Cornelius ditulis dalam kitab Stamford Raffles yang terkenal yaitu “The History of Java” terbit tahun 1817 .

Hartmann, residen Kedu sangat tertarik dengan Borobudur dan tahun 1835 menyuruh membersihkan candi. Wilsen tahun 1853, yang mengatakan bahwa Hartman menyuruh bongkar stupa puncak, dan menemukan sebuah arca Buddha yang belum selesai, dan benda-benda lain termasuk sebilah keris Di samping itu Wilsen mendapat tugas membuat gambar-gambar tentang candi Borobudur. Selanjutnya banyak orang-orang Belanda yang meneliti dan menulis tentang Borobudur.

J.W.Ijzerman tahun 1885  membuka dasar candi dan ia menemukan sejumlah relief.  Pada tahun 1890-1891 seluruh relief yang kemudian dikenal sebagai relief Karmawibhanga sebanyak 160 buah panil difoto seluruhnya oleh K.Cephas, kemudian bagian ini ditutup kembali.

Th van Erp dan N.J. Krom menyusun tulisan lengkap tentang candi Borobudur dan yang baru diterbitkan tahun 1927 dan 1931. Dua karangan tersebut sangat penting untuk penelitian candi Borobudur.

Pada tahun 1975 Siswadhi dan Hariani Santiko menyusun “Anotated Bibliography of Borobudur”, dari  laporan awal Borobudur ditemukan, hingga karangan-karangan tahun 1975, yang jumlahnya sangat banyak, tetapi hingga saat ini “Anotated Bibliography of Borobudur”,  belum pernah diterbitkan, sehingga karangan-karangan setelah 1975  belum sempat disusun lagi.

 

PEMUGARAN

 

 

Ketika ditemukan, keadaan candi Borobudur sangat menyedihkan, oleh karena itu pada tahun 1907  Van Erp seorang insinyur  militer Belanda,  memugar bagian candi yang berbentuk bulat yaitu tingkat  7, 8, dan 9. Stupa-stupanya disusun kembali, dan pekerjaannya ini selesai pada tahun 1911.

Borobudur telah berdiri megah lagi selama  hampir 50 tahun, tetapi kemudian rusak kembali karena proses alam dan kimiawi.

Bagian-bagian candi yang belum tertangani oleh Van Erp yaitu tingkat 2,3,4,5,6, melesak dan dindingnya miring.

UNESCO dan lembaga-lembaga lainnya membantu pemugaran Borobudur kembali dibawah pimpinan  Prof.Dr.R.Soekmono, dibantu  dari segi konstruksi oleh Ir. Rooseno. Pemugaran kedua ini dimulai pada tahun 1973 dan selesai pada tahun 1983.

 

LATAR BELAKANG SEJARAH DAN AGAMA

Bilamana candi Borobudur didirikan tidak ada keterangan yang pasti.  Dari penelitian bentuk huruf Jawa Kuna yang dipakai menulis inskripsi pendek-pendek di atas panil relief Karmawibhanga, candi didirikan pada abad IX, didirikan oleh seorang  raja Sailendra, yaitu raja Samaratungga beserta puterinya bernama Pramodhawarddhani.  didasarkan pada  prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan.

Latar belakang agama candi Borobudur adalah perpaduan ajaran Buddha Mahayana dengan  Tantrayana , dengan   meditasi  filsafat Yogacara.  Bentuk agama Buddha semacam ini mirip dengan agama Buddha yang berkembang di Bengal India, pada waktu pemerintahan raja-raja Pala pada sekitar abad VIII.

 

STRUKTUR BANGUNAN

Candi Borobudur secara keseluruhan terlihat sangat istimewa, baik dalam hal  ukuran, tehnik penyusunan batu, maupun dari segi pemahatan relief dalam hal kwalitas maupun kwantitas , pemilihan jenis cerita, arca-arcanya dan sebagainya. Candi berdenah bujur sangkar dan secara keseluruhan berukuran 123 x 123 meter, tinggi asli (dengan chattra, yaitu bagian atas chaitya puncak) 42 m, tanpa chattra  menjadi 31 meter.

Candi terdiri atas 10 tingkatan, 6 tingkat di bawah berdenah bujur sangkar dengan catatan ukuran makin  ke atas makin kecil, dan tingkat 7,8,9, berdenah hampir bundar, diakhiri oleh stupa puncak yang besar. Secara keseluruhan candi Borobudur berbentuk stupa, tetapi mempunyai struktur berundak teras.

Pondasi candi Borobudur dibuat berbeda, candi didirikan langsung di atas bukit, yang dibentuk sesuai dengan bentuk candi yang dikehendaki dengan cara memotong bagian candi yang tinggi dan mengurug bagian bukit yang rendah.  Pondasi bagian candi terluar  dibuat masuk ke dalam tanah sedalam kurang lebih satu meter tertumpang di atas lapisan batu karang, sedangkan bangunan di atasnya  tertumpang di atas beberapa lapis batu.

 

RELIEF DAN ARCA

Seperti telah disebut terdahulu, candi Borobudur dihias dengan relief cerita, dan relief ornamental yang kaya.  Relief cerita menggambarkan adegan-adegan  yang diambil  dari beberapa sutra, yaitu cerita Karmawibhanga, Jatakamala, Awadana, Gandawyuha dan Bhadracari, yang dipahat pada bagian-bagian candi, seperti tertera di bawah ini:

1. Kaki candi tertutup                – dinding candi              – Karmawibhanga (160 panil)
2. Lorong 1, tingkat 2                – dinding candi              – Lalitawistara (120 panil)
- Jataka/Awadana (120 panil)
- Jataka/Awadana (372 panil)
- Jataka/Awadana  (128 panil)
3. Lorong 2, tingkat 3                – dinding candi              – Gandawyuha (128 panil)
- pagar langkan             – Jataka/Awadana (100 panil)
4. Lorong 3, tingkat 4                – dinding candi              – Gandawyuha (88 panil)
- pagar langkan             – Gandawyuha (88 panil)
5. Lorong 4, tingkat 5                – dinding candi              – Gandawyuha (84 panil)
- pagar langkan             – Gandawyuha /Bhadracari (72 panil)

Karmawibhanga. Relief Karmawibhanga atau yang sering disebut Mahakarmawibhangga  dipahat di atas 160 panil yang menggambarkan  ajaran sebab akibat,  perbuatan baik dan jahat, setiap panil menggambarkan adegan tertentu dan bukan cerita naratif (beruntun).

Adegan-adegan dalam panil tersebut sangat penting untuk melihat perilaku masyarakat Jawa Kuna masa itu, antara lain perilaku keagamaan, mata pencaharian, struktur sosial, tata busana, peralatan hidup, jenis-jenis flora dan fauna.

 

 

Relief  Karmawibhanga ini tidak tampak seluruhnya, karena tertutup oleh  “kaki candi  kedua” yang lebar, hanya relief pada sisi selatan dibuka sedikit untuk dilihat oleh pengunjung.

Apa sebab diberi batu penutup yang lebar ini, belum jelas.  Apakah  batu penutup yang lebar ini dipakai untuk menahan melesaknya candi, atau menutup bagian gambaran tentang nafsu keduniawian yang mungkin dapat mengganggu konsentrasi mereka yang sedang  menjalani tingkatan 10 jalan Bodhisattwa  untuk mencapai tingkat ke Buddha-an ?

Relief Lalitawistara (120 panil), berupa relief cerita yang dipahat secara berkesinambungan di dinding  candi lorong I tingkat 2. Lalitawistara menggambarkan kehidupan  Buddha Gautama sejak lahir sampai  keluar dari istana,  mendapat pencerahan di bawah pohon bodhi dan diakhiri  pada ajaran pertama di Taman Kijang  dekat Benares.

 

 

Jatakamala-Jataka dan Awadana Jataka menggambarkan peristiwa dan perbuatan  Buddha pada kehidupan yang lampau, ditulis oleh Aryasara pada abad ke-4.  Digambarkan Buddha dalam berbagai reinkarnasinya  sebagai manusia,   memberikan contoh-contoh kebajikan dan pengorbanan diri.  Awadana adalah cerita Jataka pula, tetapi tokohnya bukan Buddha melainkan pangeran Sudhanakumara.

Gandawyuha, merupakan cerita yang sangat penting, menggambarkan Sudhana, putera seorang saudagar kaya yang mencari kebenaran.  Ia bertemu berbagai pendeta dan Boddhisatwa, termasuk Siwa Mahadewa.  Pada bagian akhir Gandawyuha  dikenal sebagai cerita Bhadracari,  menampilkan sumpah Sudhana untuk menjadikan Bodhisattwa Samantabhadra sebagai contoh hidupnya.

Relief ini hanya sampai pagar langkan lorong ke-5 di tingkat 6, sedangkan tingkat 6 ini disusul oleh tingkat 7,8,9, yang berbentuk hampir bulat  dipenuhi stupika-stupika berterawang, dan diakhiri dengan stupa puncak, sebagai tingkat 10.

 

KAMADHATU-RUPADHATU- ARUPADHATU

Mengapa candi Borobudur dibuat 10 tingkat, terdapat pendapat-pendapat yang meninjau dari  sudut simbolismenya.    Misalnya W.F Stutterheim menganggap bahwa sepuluh tingkatan itu sebenarnya  dapat di bagi menjadi tiga bagian sesuai dengan konsep dhatu yaitu tahapan yang harus dilalui oleh mereka yang ingin mencapai Ke-Buddha-an.

Tahapan-tahapan itu adalah kamadhatu-rupadhatu–arupadhatu, dan ketiga dhatu tersebut dilambangkan oleh kaki candi dengan relief Karmawibhanga sebagai kamadhatu,  tingkat 2,3,4,5,6, dengan relief-relief Lalitawistara-Jataka-Awadana-Gandawyuha dan Bhadracari  sebagai rupadhatu, dan tingkatan 7,8,9,10  adalah lambang arupadhatu.

 

10 TINGKATAN BODHISATTWA

 

 

Sementara itu, de Casparis menghubungkan 10 tingkatan Borobudur dengan  10 tingkatan Bodhisattwa (dasabodhisattwabhumi) ajaran yang terdapat  dalam sebuah sutra yaitu Dasabhumika-sutra, yang mengajarkan apabila seorang bodhisattwa ingin mencapai tingkat Ke-Buddha-an harus melalui tingkatan 10 tersebut.

Di samping relief baik relief ornamental maupun relief cerita, candi Borobudur juga dilengkapi dengan arca-arca Buddha  Tathagatha, di tingkat 7, 8, 9 seluruhnya berjumlah 504 buah.

Arca-arca Buddha yang menghias pagar langkan berjumlah 432,  mempunyai perbedaan pada sikap tangan (mudra) sesuai dengan arah hadap arca, misalnya  arca Amoghasiddha menghadap utara mempunyai sikap tangan abhayamudra, di sebelah selatan Ratnasambhawa mempunyai mudra varamudra, di sebelah barat Amithaba mempunyai sikap tangan dhyanamudra dan sebelah  timur Aksobhya mempunyai sikap tangan bhumisparsamudra.

Arca-arca  Buddha Tathagatha yang ada di relung pagar langkan tingkat 5  bermudra witarka-mudra,  sedangkan  arca-arca Buddha yang ada di dalam stupa berterawang di tingkat 7,8,9, mempunyai satu mudra pula yaitu dharmacakramudra.

 

SIAPAKAH  PARA SILPIN (SENIMAN) CANDI?

Belum lengkap rasanya dalam pembahasan arsitektur candi Borobudur bila tidak menyinggung para seniman pendiri candi di Jawa umumnya dan candi Borobudur pada khususnya ?  Dari penelitian yang telah dilakukan, adalah jelas  orang Indonesia sendiri yang mendirikan candi-candi tersebut.  Menurut 2 buah prasasti, orang-orang Indonesia dahulu ada yang belajar agama di India, dan mungkin jumlahnya banyak, sehingga ada seorang raja Sriwijaya minta kepada raja dinasti Pala untuk membuat asrama bagi pelajar Indonesia di Nalanda.  Mereka belajar tentang aturan-aturan membuat bangunan suci beserta komponennya dari kitab Vastusastra, kemudian mengunjungi pusat-pusat kesenian di India Utara dan/atau India Selatan, lalu pulang ke Indonesia. Borobudur dibuat oleh seniman Indonesia dan bukan seniman India dibuktikan antara lain oleh:

Pertama: Adegan-adegan relief Borobudur, khususnya cerita Mahakarmawibhanga, banyak mengambil kehidupan sehari-hari di Jawa (bekerja di sawah, jualan dipasar, memikul padi atau benda-benda yang akan dijual belikan dan sebagainya).

Kedua: Diatas panil terdapat inskripsi pendek-pendek sebagai petunjuk bagi seniman yang ditulis dalam aksara Jawa Kuna (dan bukan Deva-Nagari !) serta bahasa atau kata-kata Jawa Kuna pula (bukan Sansekerta).

Ketiga :  Ketika dilakukan penggalian di sekitar candi, tidak ditemukan sisa-sisa “Kampong Keling” atau permukiman orang-orang India.

Pendirian candi Borobudur memakan waktu lama, maka si seniman pendiri bangunan haruslah bermukim di sekitar candi yang dibangun.

 

 

Jagad Kejawen,
Prof. DR. Hariani Santiko

Produk kami

Kripik Jamur

Keripik jamur memiliki rasa khas.Dahulu kala, masyarakat Dataran Tinggi Dieng – Wonosobo, memanfaatkan Jamur sebagai bahan makanan basah. Karena perkembangan dunia kuliner semakin pesat, masyarakat dataran tinggi dieng – Wonosobo lebih berinovatif dengan mengolah jamur menjadi keripik. Yang hingga kini Keripik Jamur lebih digemari dikalangan masyarakat setempat maupun wisatawan.

Tak hanya soal rasa yang mendapat acungan jempol, Keripik Jamur mengandung kadar protein lebih tinggi jika dibandingkan dengan beras dan gandum. Keripik Jamur juga mengandung sembilan jenis Asam amino esensial, yang lebih menarik Jamur dikenal sebagai makanan yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Lezat, Sehat, Halal dan Murah itulah ungkapan yang layak diberikan untuk Keripik Jamur. Jika anda penasaran dengan Keripik Jamur, segera bergegas ke dataran tinggi dieng untuk mendapatkanya.

 

Kacang Dieng

Mungkin bagi yang pertama kali mendengar istilah kacang babi (kacang Dieng) terasa asing ataupun aneh, padahal kacang babi (kacang dieng) sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan binatang babi.

Kacang babi (kacang dieng) berasal dari tumbuh-tumbuhan sejenis kacang-kacangan yang hanya tumbuh dengan baik di dataran tinggi dieng, kacang ini memiliki bentuk yang unik, tidak seperti jenis kacang-kacangan lain. Bentuknya besar dan melebar dengan congor ditengah yang berwarna hitam.

Masyarakat dataran tinggi dieng dan sekitarnya lebih sering menyebut dengan istilah kacang babi, sedangkan dikalangan wisatawan kacang babi lebih dikenal dengan istilah kacang dieng. Makanan ringan asli dieng ini merupakan satu paket dengan kripik jamur, dalam arti setiap wisatawan yang membeli kacang babi (kacang dieng) tak lupa dengan kripik jamur.Soal rasa boleh dicoba, karena lidah tak pernah bohong (Ungkapan ini tak hanya berlaku untuk salah satu iklan produk makanan di TV, tapi juga berlaku untuk kacang dieng). kacang babi (kacang dieng) termasuk jenis kuliner / makanan ringan yang terkenal akan kelezatanya, rasanya yang gurih juga mengandung nilai gizi tinggi.

Pantas saja jika Kacang babi (kacang dieng) menjadi primadona dikalangan wisatawan, disamping harganya yang terjangkau kacang babi (Kacang Dieng) cocok untuk oleh-oleh atau sekedar untuk cemilan di perjalanan.

 

Kacang Snerek.

Kacang Snerek merupakan jenis kacang yang biasa diolah sebagai campuran pelengkap masakan sup,seperti sup buntut dan lain sebagainya.Namun

 

Grubi.

Grubi adalah makanan jamilan yang dibuat dari parutan ketela rambat yang dalam pengolahannya dicampur dengan adonan gula jawa,kalau didaerah luar Wonosobo menyebutnya “Kremes”.

 

Sale Pisang.

Pengolahannya cukup sederhana dengan cara buah pisang yang dijemur diterik matahari kemudian dilumuri tepung yang telah dicampur bumbu .

 

Sagon Kelapa.

Merupakan jenis makanan yang dibuat dari parutan kelapa yang di cetak bulat dan pipih kemudian disangan .

Carica.

Minuman buah pepaya khas dataran tinggi Dieng.Cara penyajian akan lebih nikmat jika ditambahkan es.