Candi Prambanan

 

 

 

Setelah membicarakan candi Borobudur,  kita bicarakan candi Prambanan, karena keduanya adalah candi besar yang istimewa dari kerajaan Mataram Kuna.   Candi Borobudur bersifat agama Buddha dan didirikan oleh raja Sailendra, maka candi Prambanan didirikan oleh seorang raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa  pada tahun 856 Masehi.

 

Candi Prambanan berupa sebuah kompleks bangunan candi terdiri dari tiga halaman dengan candi Siwa sebagai pusatnya, terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, kurang lebih 17 km sebelah timur kota Yogjakarta.

Cerita rakyat tentang Prambanan

Candi Prambanan dikenal pula dengan nama candi Lara Jonggrang atau Roro Jonggrang, terbawa oleh penamaan penduduk setempat untuk arca Durga Mahisasuramardini yang terletak di ruang penampil sebelah utara candi Siwa.

Pemberian nama Lara Jonggrang yang berarti “Gadis yang semampai” ini dikaitkan dengan cerita rakyat tentang asal muasal berdirinya candi Prambanan, yang secara singkat adalah sebagai berikut:

Lara Jonggrang, seorang puteri raja Baka mendapat lamaran dari Bandung Bandawasa, tetapi ia tidak berminat karena pemuda tersebut telah membunuh ayahnya. Karena didesak terus menerus, Lara Jonggrang mencari tipu muslihat. Ia berpura pura menerima lamaran  dengan syarat agar Bandung Bandawasa dapat membuat candi/arca seribu dalam satu malam.  Menjelang tengah malam ternyata candi/arca hampir selesai, telah terselesaikan  sejumlah 999 buah.  Dengan cemas Lara Jonggrang minta kepada penduduk agar menyalakan obor sebanyak mungkin, dan beberapa gadis menumbuk padi, sehingga ayam jantan  mulai berkokok. Dikira sudah fajar, hilanglah kekuatan Bandung Bandawasa sehingga tidak bisa menggenapi 1000 candi/arca.  Namun ketika ia tahu tipu muslihat sang puteri, Bandung sangat  marah dan Lara Jonggrang dikutuk menjadi arca batu untuk menggenapi candi/arca sesuai permintaannya.

 

“Penemuan kembali” Prambanan

 

Candi Prambanan merupakan sebuah kompleks percandian yang dilaporkan pertama kali  oleh CA Lons seorang pegawai VOC Semarang pada tahun 1733 Masehi.

Sejak Stamford Raffles menjadi Gubernur Jendral di Jawa, candi Prambanan mulai diteliti secara sistimatis.

YW Ijzerman tahun 1885 mulai membersihkan reruntuhan candi, dan  selanjutnya ia menulis laporan pekerjaannya dalam bukunya yang berjudul Beschrijving der Oudheden (Uraian tentang Bangunan-Bangunan Purbakala). Diteruskan oleh J.Groneman dan seorang juru foto orang Jawa bernama Kasian Cephas, telah membuat foto-foto  dokumentasi candi Prambanan. Pekerjaan memugar kompleks Prambanan terus dilakukan.

Dimasa Jepang dan Perang Kemerdekaan RI

Ketika masa pendudukan Jepang pegawai-pegawai Belanda ditawan oleh orang Jepang, dan pekerjaan dilanjutkan oleh orang-orang Indonesia yaitu Suhamir yang dibantu oleh Samingun dan Suwarno. Demikian pula ketika terjadi revolusi fisik  tahun 1948 pekerjaan memugar terhenti sama sekali karena pegawai-pegawainya takut untuk masuk bekerja.

Kerusakan  terjadi karena desa Bogem dekat Prambanan menjadi markas tentara kolonial Belanda, dan rakyat menjarah kantor Prambanan yang diperkirakan menyimpan benda-benda dari emas, sehingga banyak arsip yang hilang. Setelah Jogjakarta kembali kepada pemerintah Republik Indonesia tahun 1949,  pekerjaan memugar candi Prambanan menjadi lancar.

Pekerjaan selesai tahun 1952, namun tidak pernah difikirkan memberi penangkal petir untuk bangunan setinggi itu, maka pada tahun itu pula puncak candi Prambanan disambar petir. Perbaikan dilakukan bersama-sama dengan memperbaiki ragam hias pada bingkai-bingkai atap serta gapura-gapura bilik candi, sehingga perbaikan tuntas sudah pada tahun 1953 dan bangunan Siwa Prambanan diresmikan tahun 1954 oleh Presiden Republik Indonesia 1, Presiden Soekarno.

KOMPLEK DAN BANGUNAN-BANGUNAN CANDI

Gugusan candi Prambanan yang berjumlah ratusan itu dikelilingi oleh tiga lapis pagar keliling, masing – masing  berdenah bujur sangkar dengan empat buah pintu gerbang di setiap sisi.

Halaman Pusat

 

Tembok keliling yang paling dalam memagari halaman pusat mempunyai ukuran 110×110 meter.  Dalam halaman pusat atau halaman pertama ini  berdiri delapan buah candi,  yaitu candi Siwa sebagai candi terbesar menghadap ke timur, diapit oleh candi Wisnu di sebelah utara dan candi Brahma di sebelah selatan.

Di depan ketiga candi tersebut ada tiga buah candi yang lebih kecil, dan biasanya disebut candi Wahana, dan dua buah candi berdiri dekat pintu gerbang sebelah utara dan selatan, kedua bangunan ini disebut candi Apit.

Di samping delapan candi besar tersebut , pada halaman pusat ini terdapat delapan candi kecil-kecil ukurannya, dan terletak di delapan penjuru mata angin, tidak jauh dari pagar keliling. Ke-8 candi ini biasanya disebut sebagai candi Kelir, namun dalam karangan ini  disebut candi Mata Angin atau candi Astadikpalaka  yang berarti Penjaga 8 mata angin.

 

Dalam agama Hindu, terdapat kelompok dewa-dewa penjaga arah mata angin, ada yang  empat (Catur Lokapala), ada yang berjumlah delapan (Astadikpalaka), berjumlah sepuluh (Dasa Lokapala). (Pada masa tumbuhnya kebudayaan Hindu-Saiwa periode Jawa Timur (abad X_XVI) terdapat Sembilan bentuk Siwa yang dikenal sebagai Nawasanga).

Candi kecil berjumlah 8 di halaman pusat komplek Prambanan adalah tempat dewa – dewa  Astadikpalaka, karena dalam kitab Vastusastra, dewa-dewa tersebut sangat penting kedudukannya pada setiap upacara keagamaan. Relief dewa-dewa Astadikpalaka ini pun dijumpai pada dinding tubuh candi Siwa.  Halaman pusat ini ternyata  lebih tinggi 4.20 meter dari halaman  ke II, sehingga untuk ke halaman II harus melalui 9 buah anak tangga.

Halaman II

Halaman ke-II berukuran  220×220 meter, dan dari sisa-sisanya diketahui pada halaman II ini dahulunya terdapat 224 buah candi Perwara, semuanya menghadap keluar, maksudnya tidak menghadap ke halaman pusat.  Telah ada beberapa candi Perwara yang bisa dipugar, namun kebanyakan sulit dikembalikan ke bentuk semula, karena batu-batunya telah banyak yang hilang.

Halaman III

Menarik perhatian adalah bentuk halaman III yang tidak simetris dengan halaman I dan ke II, apa sebabnya belum jelas.  Ada kemungkinan halaman ke III sengaja di buat asimetris untuk menampung air sungai Opak dijadikan semacam kolam buatan.  Dalam sebuah bangunan suci, peranan air (tirtha) sangat penting, air tersebut bisa berupa sungai, kolam.   Dalam  prasasti Siwagrha tahun 856 Masehi yang menguraikan tentang kompleks bangunan suci yang didirikan, mungkin kompleks Prambanan. Dalam prasasti tersebut ada kalimat berbunyi …lwah inalihaken… berarti “sungai dipindahkan”.  Apa yang dimaksud aliran sungai Opak dipindahkan agar air sungai bisa ditampung untuk kolam  ?  Halaman III yang letaknya lebih rendah dari halaman II, dahulunya dipakai untuk mendirikan bangunan-bangunan profan tempat penginapan para pendeta dan mungkin pula untuk istirahat para peziarah .  Luas halaman ke III ini adalah 390×390 meter.

Candi Siwa

 

Candi Siwa merupakan candi terbesar dan terindah  di antara seluruh candi-candi dalam kompleks.

Candi berdenah bujur sangkar berukuran 43,46 x 42,60 meter, tinggi 47 meter.

Candi mempunyai tiga bagian, yaitu kaki-tubuh-atap, yang diperkirakan masing-masing bagian tersebut adalah lambang dari  bhurloka (dunia bawah)-bhuwarloka (dunia manusia)-swarloka (dunia atas).  Mempunyai empat buah bilik, yaitu bilik utama atau bilik pusat (garbhagrha) dengan pintu menghadap ke timur,  dan tiga buah bilik penampil pada sisi selatan, barat, utara.

Di ruang pusat (garbhagrha) terdapat arca Siwa Mahadewa berdiri di atas yoni.

Adapun ruang-ruang penampil diisi arca-arca Agastya (sebelah selatan), Ganesa (sebelah barat) dan Durga Mahisasuramardini yang dikenal sebagai Lara Jonggrang di bilik penampil sebelah utara. Masing-masing penampil ini mempunyai tangga untuk masuk ke bilik-bilik tersebut. Atap candi menjulang tinggi, terdiri dari 3 lapis yang dipenuhi dengan hiasan ratna atau amalaka tinggi dan puncak candi pun berbentuk amalaka tinggi.

 

Keistimewaan lain candi Siwa adalah dijumpainya bangunan-bangunan kecil pada sudut setiap pipi tangga dan kaki candi. Pada awalnya tidak diketahui fungsi bangunan kecil-kecil tersebut, namun ketika diadakan pengukuran halaman-halaman kompleks candi, dapat diketahui bahwa salah satu candi kecil itu yaitu yang terletak di selatan tangga sebelah timur, adalah tanda titik silang halaman  I dan II.  Hal ini menarik, karena dalam kitab Vastusastra di India, titik silang seharusnya ada di ruang pusat (garbhagrha) candi.  Namun para seniman Jawa Kuna tidak ingin mengikuti aturan kitab Vastusastra, dan titik silang sengaja di hindarkan dari ruang tersuci tersebut.  Hal semacam ini pun terdapat pada beberapa candi Mataram kuna lainnya, misalnya pada candi Sambisari.

Kalpataru dan relief Prambanan

Selain struktur candi yang megah, candi Siwa memiliki ragam hias dan relief yang sangat menarik. Salah satu ragam hias yang sangat menarik pada dinding bagian luar kaki candi Siwa, maupun kaki candi  lainnya terdapat ragam hias berupa pohon kalpataru (kalpawrksa) yang mengapit relief singa, sebaliknya masing-masing pohon diapit oleh binatang-binatang tertentu.  ragam hias ini dikenal sebagai motif Prambanan.

 

Dari hampir 200 buah motif Prambanan, tidak ada dua motif yang secara detail mempunyai persamaan. Kalpataru adalah “pohon kehidupan” yang tumbuh di sorga dewa Indra. Pohon Kehidupan ini ada lima macam, selain kalpataru ada pohon parijata yang dipakai hiasan candi-candi masa Klasik Muda, terutama candi Kidal dari masa Singasari. Di bagian luar kaki candi Siwa terdapat 64 buah relief motif Prambanan.  Sementara itu, di deretan panil di atas  panil-panil berhiaskan motif Prambanan terdapat 70 buah panil  menggambarkan tiga orang yang sedang menari. Relief ini adalah cuplikan dari kitab Natyasastra yang menggambarkan Siwa dalam tarian Tandawa. Gerakan-gerakan tari Tandawa ini sebenarnya menggambarkan lima tugas (pancakrtya) dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, yaitu “penciptaan, perlindungan, penghancuran, menghilangkan kebodohan, memberi  anugerah.

Selain ragam hias ornamental yang indah,  di bagian dalam pagar langkan  candi Siwa terdapat relief wiracarita Ramayana yang dipahat di 42 panil, mulai dari sisi timur. Cerita dimulai dari Wisnu menitis ke Rama, yang diakhiri oleh cerita Rama dan bala tentara kera membuat jembatan menuju ke Alengka (cerita Wayang Rama Tambak). Oleh karena cerita belum selesai, maka cerita Ramayana di lanjutkan di bagian dalam pagar langkan candi Brahma sebanyak 30 panil.

Berikut ini diuraikan secara garis besar  adegan-adegan cerita Rama yang dapat kita ikuti  kalau kita berjalan menelusuri lorong selasar (pradaksinapatha) dari sisi timur dengan menyebelah-kanankan (mapradaksina) candinya, maksudnya mengikuti arah jarum jam:

Lima dewa menangis di hadapan Wisnu dengan permohonan agar dewa Wisnu turun ke dunia membunuh Rawana. Wisnu duduk di atas ular Ananta dan di sebelahnya duduk Garuda yang mempersembahkan sekuntum bunga teratai setengah mekar (1).

Pendeta Wiswamitra minta pertolongan ayah Rama untuk membasmi para raksasa yang mengganggu pertapaan mereka. Rama dan Laksmana diutus mewakili  raja, berhasil membunuh para raksasa, termasuk rasaksa Taksaka dan Marichi (2-5).

Selanjutnya Rama dan Laksmana meminang Sita, puteri raja Janaka, dan Rama menang dalam swayamwara setelah berhasil membentangkan busur dewa Siwa (6).
Selesai pernikahan, Rama, Sita dan Lakmana pulang ke Ayodhya, di tengah jalan dihadang oleh Rama Parasu. Namun Rama Parasu dikalahkan oleh Rama (7-8).  Raja Dasaratha, ayah Rama, ingin  agar Rama menggantikannya sebagai raja di Ayodhya, menggantikannya. Tetapi keinginan itu ditentang oleh salah satu isteri raja yaitu Kaikeyi.  Akhirnya pengganti raja adalah Bharata, anak Kaikeyi, dan Rama, Sita dan Laksmana diharuskan pergi dari Ayodhya dan tinggal di hutan Dandaka (9-11).

Mereka bertiga berangkat ke hutan Dandaka, karena kesedihannya raja Dasaratha wafat, mayatnya dibakar (12-13).

Bharata pergi menyusul Rama dan minta agar Rama kembali ke Ayodhya untuk menjadi raja, namun permintaan Bharata ditolak.  Ia memberi sepasang terompahnya sebagai wakil, dan sepasang terompah itu diletakkan di atas singgasana. Rama juga mengajarkan delapan (asta) tingkah laku yang baik (brata) yang diharapkan dilakukan oleh seorang raja.  Ajaran niti ini di Jawa dikenal sebagai Astabrata (14).

Rombongan Rama memasuki hutan rimba dan banyak mendapat godaan, di antaranya godaan seekor burung gagak yang mengganggu Sita. Rama marah dan burung gagak dikutuk bulunya menjadi hitam (15-16).
Sarpanaka adik Rawana, datang melamar Rama dan Laksmana, tetapi ditolak. Karena sakit hati ia pergi mengadu ke kakaknya Rawana (17-18).

Rama dan Laksmana mengejar seekor kijang Kencana, yang sebenarnya adalah rasaksa Marica, pembantu Rawana.  Ketika Sita ditinggal sendiri, ia diculik oleh Rawana (19-21).

Sita ditolong oleh burung Jathayu, tetapi burung tersebut dapat dikalahkan oleh Rawana.  Sebelum mati, Jathayu sempat menceritakan perihal Sita kepada Rama (22-23).

Dalam perjalanannya mencari Sita, Rama dan Laksmana telah membebaskan bidadara dan bidadari yang dikutuk menjadi raksasa dan buaya,kemudian Rama bertemu Hanuman (24-26).

Rama menolong Sugriwa dengan membunuh Walin (Subali), kakak Sugriwa, kemudian mengangkat Sugriwa menjadi raja di gua Kiskenda.  Sugriwa berjanji akan membantu Rama memerangi Rawana (27-32).

Mulailah persiapan2 perang, Hanuman diutus ke Alengka menemui Sita (33-34).  Hanuman berhasil ketemu Sita di Alengka yang selalu dijaga/didampingi oleh Trijata, anak Wibhisana. Kemudian Hanuman tertangkap dan dihukum bakar.  Namun Hanuman tidak terbakar, bahkan ia membakar rumah-rumah di Alengka.  Kemudian ia kembali ke tempat Rama untuk melaporkan keadaan (35-39).

Setelah mendapat persetujuan dari dewa laut Waruna, Rama mengerahkan bala tentara monyetnya Sugriwa membuat jembatan di atas laut menuju Alengka , dan bersama-sama dengan bala tentaranya Rama dan Laksmana menuju Alengka (40-42).

Relief Ramayana Prambanan ini telah dibahas oleh W.F.Stutterheim tahun 1925 sebagai disertasinya.  Di samping itu  di tahun 1928 ia mencoba mencari makna simbolis relief naratif Ramayana, dan menurut pendapatnya penyusunan adegan cerita Rama ini sesuai dengan jalannya matahari mengitari bumi setiap hari:

?Di sebelah timur:  turunnya Wisnu ke dunia sampai dengan kembalinya Rama ke Ayodhya   (matahari terbit)

?Di sebelah selatan:  kehidupan perkawinan Rama-Sita  sampai dengan adegan di buang ke hutan (kebahagiaan memuncak)

?Disebelah barat : Sita dilarikan Rawana sampai dengan kemenangan Rama atas Subali (mulai senja,matahari mulai surut)

?Di sisi utara :  permusyawaratan Rama dengan Sugriwa untuk menyerang Alengka dan Hanuman diutus ke Alengka sampai dengan pembuatan jembatan (tambak) dan penyeberangan ke Alengka  (malam –menjelang pagi).

Seperti telah dikemukakan terdahulu, cerita Rama ini dilanjutkan di bagian dalam pagar langkan  candi Brahma  pada 18 panil.  Apa sumber cerita Ramayana ini belum ditemukan. Dari adegan-adegannya, cerita Rama tidak bersumber pada Ramayana karangan Walmiki, maupun kakawin Ramayana.

JagadKejawen,

Prof.DR. Hariani Santiko